Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

IHSG Melemah ke 5.801, Pasar Wait and See Data AS

IHSG Melemah ke 5.801, Pasar Wait and See Data AS
Foto: Pixabay/Pexels

JAKARTA — Selasa pagi ini, IHSG membuka perdagangan dengan langsung terperosok ke zona merah. Indeks turun 19,34 poin atau 0,33 persen ke level 5.801,45 — masih betah di bawah 6.000 untuk hari kedua berturut-turut.

Pelaku pasar belum mau bergerak agresif. Mereka menunggu serangkaian data ekonomi Amerika Serikat yang akan dirilis sepanjang pekan ini, termasuk data ketenagakerjaan Non-Farm Payrolls pada Kamis (1/7). Angka itu akan jadi petunjuk penting soal arah kebijakan suku bunga The Fed.

Indeks LQ45 — yang merangkum 45 saham unggulan — ikut tergerus 4,02 poin atau 0,70 persen ke posisi 568,99.

Dua Hari Berturut-turut di Zona Merah

Sehari sebelumnya, Senin (29/6), IHSG sudah lebih dulu jatuh lebih dalam. Indeks ditutup melemah 75,34 poin atau 1,28 persen ke posisi 5.820,79, dengan LQ45 anjlok 1,83 persen. Volume perdagangan pada sesi Senin mencapai 15,48 miliar saham dengan nilai transaksi Rp9,10 triliun — angka yang terbilang ramai, tapi mayoritas saham tetap merah: 449 saham melemah, hanya 214 yang menguat.

Tekanan itu datang dari dua arah sekaligus: ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas, dan kehati-hatian investor global menjelang data ekonomi AS.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam akhir pekan lalu. Iran menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz, AS membalas dengan menyerang fasilitas militer Iran. Situasi sempat memicu kepanikan singkat di pasar global, meski kemudian sedikit mereda setelah ada sinyal pertemuan diplomatik di Doha, Qatar — walau Iran sendiri membantah ada agenda negosiasi.

“Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik kembali meningkat, namun belum memicu kepanikan di pasar keuangan global,” kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.

Ke Mana IHSG Bisa Bergerak?

Liza memetakan dua skenario yang mungkin terjadi. Kalau rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji level resistance di kisaran 5.996–6.013. Bila berhasil menembus area itu, penguatan bisa berlanjut ke 6.097 bahkan 6.221–6.287.

Tapi ada risiko sebaliknya. Bila support di 5.722 gagal dipertahankan, koreksi bisa makin dalam menuju 5.677 hingga 5.594.

Jadi saat ini pasar sedang berada di persimpangan. Bisa naik, bisa turun lebih jauh — tergantung data yang masuk.

Sepanjang pekan ini, investor akan mencermati beberapa rilis penting dari AS: data Job Openings (JOLTs), pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh, angka Non-Farm Payrolls, hingga tingkat pengangguran. Semua itu akan membentuk ekspektasi pasar soal apakah The Fed akan memangkas suku bunga atau justru menahannya lebih lama.

Dari sisi global, ada sinyal positif yang sempat menyegarkan suasana. Wall Street kompak menguat pada Senin malam: Dow Jones naik 0,59 persen, S&P 500 melompat 1,17 persen, dan Nasdaq — yang berbasis teknologi — melesat 2,07 persen. Tapi di Asia pagi ini gambarannya campur aduk. Nikkei menguat 0,54 persen ke 69.885, sementara Hang Seng melemah 1,39 persen dan Shanghai tergelincir 0,33 persen.

Satu catatan menarik dari Deutsche Bank: ETF dan reksa dana berbasis teknologi justru mengalami outflow sebesar 9,3 miliar dolar AS pekan lalu. Artinya, sebagian investor memilih keluar dari sektor teknologi meski indeksnya menguat — sebuah sinyal kehati-hatian yang tidak bisa diabaikan.

Bantalan dari Dalam Negeri

Di tengah tekanan eksternal, ada beberapa kabar positif dari dalam negeri yang bisa menjadi penopang.

Kementerian Keuangan memutuskan mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp110 triliun ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Total penempatan dana pemerintah di perbankan kini tetap Rp281 triliun, dan diperpanjang hingga akhir Desember 2026. Pemerintah juga menyiapkan dana siaga Rp100 triliun sebagai standby facility untuk menjaga likuiditas perbankan — di tengah pertumbuhan kredit yang pada Mei 2026 masih tumbuh 11,5 persen secara tahunan.

Dari sisi moneter, kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin sepanjang 2026 mulai membuahkan hasil. Hingga 26 Juni 2026, aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai sekitar 9 miliar dolar AS. Angka yang cukup signifikan — mencerminkan kepercayaan investor asing terhadap aset Indonesia mulai pulih.

Pekan ini, pasar domestik juga menantikan data PMI Manufaktur Indonesia, inflasi Juni, dan neraca perdagangan. Ketiganya akan jadi cermin seberapa kuat aktivitas ekonomi Indonesia berjalan.

“Kombinasi masuknya arus modal asing, penguatan likuiditas perbankan, serta dukungan pemerintah terhadap investasi dan ekspor berpotensi menjadi sentimen positif bagi stabilitas rupiah, pasar obligasi, dan sektor perbankan,” ujar Liza.

Ringkasan 3 Poin

  • IHSG kembali melemah pada pembukaan Selasa (1/7), turun 0,33 persen ke 5.801 — setelah Senin sebelumnya anjlok 1,28 persen. Pasar masih belum keluar dari bawah level 6.000.
  • Dua faktor utama menekan: ketegangan militer AS–Iran di Selat Hormuz dan kehati-hatian investor menjelang rilis data ketenagakerjaan AS (NFP) pada Kamis mendatang yang akan menentukan arah kebijakan The Fed.
  • Ada bantalan domestik: dana pemerintah Rp281 triliun di perbankan, dana siaga Rp100 triliun, plus aliran modal asing Rp sekitar 9 miliar dolar AS ke SBN dan SRBI — cukup untuk menahan kejatuhan lebih dalam, setidaknya untuk sementara.

FAQ Singkat

Apa itu level support dan resistance IHSG?
Support adalah batas bawah di mana harga cenderung berhenti turun dan berbalik naik — saat ini di 5.722. Resistance adalah batas atas yang sulit ditembus — saat ini di kisaran 5.996–6.013. Bila IHSG menembus resistance, potensi naik lebih lanjut terbuka.

Mengapa data NFP AS memengaruhi IHSG?
Data Non-Farm Payrolls menunjukkan kondisi ketenagakerjaan AS. Kalau angkanya kuat, The Fed cenderung menahan pemotongan suku bunga — yang membuat dolar AS menguat dan menekan aset negara berkembang seperti saham Indonesia.

Apakah konflik AS–Iran berbahaya bagi pasar Indonesia?
Belum sampai memicu kepanikan besar. Tapi kalau eskalasi berlanjut dan memblokir Selat Hormuz secara permanen, harga minyak bisa melonjak — yang pada akhirnya memperburuk inflasi dan menekan mata uang negara importir minyak, termasuk Indonesia.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda