Rabu, 8 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Masih Berlanjut

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Tekanan Masih Berlanjut
Foto: Petugas menjunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di Dolarindo Money Changer, Jakarta, Selasa (8/4/2025). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

JAKARTA — rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, 8 Juli 2026, saat tekanan dari pasar global kembali menekan mata uang Garuda. Pada pukul 10.11 WIB, berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,17% ke level Rp18.000/US$ setelah sempat bergerak stagnan di Rp17.970/US$ pada pembukaan.

Level itu kembali jadi sorotan pasar. Soalnya, angka psikologis Rp18.000 bukan sekadar batas teknis, melainkan sinyal bahwa sentimen eksternal masih dominan dan pelaku pasar belum melihat penopang kuat dari dalam negeri untuk membalikkan arah pergerakan.

Rupiah tembus Rp18.000 saat dolar AS menguat

Tekanan pada rupiah datang bersamaan dengan penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS atau DXY tercatat naik 0,10% ke 101,126 pada pukul 09.00 WIB. Saat greenback menguat, mata uang negara berkembang biasanya ikut terjepit karena investor cenderung kembali ke aset yang dianggap lebih aman.

Pergerakan ini juga mengingatkan pasar pada perdagangan intraday Senin, 6 Juli 2026. Waktu itu rupiah sempat menyentuh Rp18.000/US$, lalu menutup hari sedikit lebih kuat di Rp17.995/US$. Pola semacam ini menunjukkan tekanan belum benar-benar reda, hanya bergeser dari satu sesi ke sesi berikutnya.

Di meja transaksi, angka Rp18.000 sering dipandang sebagai garis tipis yang gampang ditembus saat sentimen global memanas. Begitu pasar melihat dolar AS makin kokoh, permintaan terhadap rupiah biasanya langsung melemah. Cepat sekali.

Gejolak Timur Tengah ikut menambah beban

Sentimen lain datang dari Timur Tengah. Eskalasi kembali muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran, menyusul laporan serangan terhadap sejumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz. Jalur ini penting bagi lalu lintas energi dunia, jadi setiap gangguan langsung memantik kekhawatiran pasar.

Harga minyak mentah ikut naik. Ini penting karena kenaikan minyak sering menyulut kekhawatiran inflasi global, lalu membuka ruang bagi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, untuk tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Ketika ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, dolar AS biasanya makin kuat. Rupiah lagi-lagi jadi pihak yang paling dulu merasakan dampaknya.

Halaman:12Semua Halaman

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda