Kondisi seperti ini membuat pelaku pasar menghitung ulang risiko. Bukan cuma soal kurs harian, tapi juga soal biaya impor energi, beban pelaku usaha yang butuh dolar, dan kepastian harga barang di dalam negeri jika tekanan global bertahan lebih lama.
Cadangan devisa naik, tapi pasar masih waspada
Dari dalam negeri, Bank Indonesia sebelumnya melaporkan cadangan devisa Indonesia naik pada Juni 2026. BI menyebut posisi cadangan devisa akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, naik tipis dari US$144,9 miliar pada akhir Mei.
Angka itu memberi ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar valas bila diperlukan. Namun, pasar tetap memantau apakah kenaikan cadangan devisa cukup kuat untuk meredam tekanan yang datang dari luar, apalagi saat dolar AS sedang bertenaga dan tensi geopolitik meningkat.
So what? Bagi masyarakat, rupiah tembus Rp18.000 berarti biaya impor bisa makin mahal, dari bahan baku industri sampai barang konsumsi tertentu. Bagi pelaku usaha, tekanan ini bisa memukul perhitungan harga pokok dan margin. Bagi investor, level ini jadi alarm bahwa volatilitas kurs belum selesai.
Kalau tekanan rupiah bertahan, pasar akan menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia dan sinyal baru dari The Fed. Satu angka di pasar valas bisa bergerak cepat. Dan pagi ini, angka itu sudah kembali menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.