JAKARTA — rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, 8 Juli 2026, saat tekanan dari pasar global kembali menekan mata uang Garuda. Pada pukul 10.11 WIB, berdasarkan data Refinitiv, rupiah melemah 0,17% ke level Rp18.000/US$ setelah sempat bergerak stagnan di Rp17.970/US$ pada pembukaan.
Level itu kembali jadi sorotan pasar. Soalnya, angka psikologis Rp18.000 bukan sekadar batas teknis, melainkan sinyal bahwa sentimen eksternal masih dominan dan pelaku pasar belum melihat penopang kuat dari dalam negeri untuk membalikkan arah pergerakan.
Rupiah tembus Rp18.000 saat dolar AS menguat
Tekanan pada rupiah datang bersamaan dengan penguatan dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS atau DXY tercatat naik 0,10% ke 101,126 pada pukul 09.00 WIB. Saat greenback menguat, mata uang negara berkembang biasanya ikut terjepit karena investor cenderung kembali ke aset yang dianggap lebih aman.
Pergerakan ini juga mengingatkan pasar pada perdagangan intraday Senin, 6 Juli 2026. Waktu itu rupiah sempat menyentuh Rp18.000/US$, lalu menutup hari sedikit lebih kuat di Rp17.995/US$. Pola semacam ini menunjukkan tekanan belum benar-benar reda, hanya bergeser dari satu sesi ke sesi berikutnya.
Di meja transaksi, angka Rp18.000 sering dipandang sebagai garis tipis yang gampang ditembus saat sentimen global memanas. Begitu pasar melihat dolar AS makin kokoh, permintaan terhadap rupiah biasanya langsung melemah. Cepat sekali.
Gejolak Timur Tengah ikut menambah beban
Sentimen lain datang dari Timur Tengah. Eskalasi kembali muncul setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan ke Iran, menyusul laporan serangan terhadap sejumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz. Jalur ini penting bagi lalu lintas energi dunia, jadi setiap gangguan langsung memantik kekhawatiran pasar.
Harga minyak mentah ikut naik. Ini penting karena kenaikan minyak sering menyulut kekhawatiran inflasi global, lalu membuka ruang bagi bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, untuk tetap berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Ketika ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, dolar AS biasanya makin kuat. Rupiah lagi-lagi jadi pihak yang paling dulu merasakan dampaknya.
Kondisi seperti ini membuat pelaku pasar menghitung ulang risiko. Bukan cuma soal kurs harian, tapi juga soal biaya impor energi, beban pelaku usaha yang butuh dolar, dan kepastian harga barang di dalam negeri jika tekanan global bertahan lebih lama.
Cadangan devisa naik, tapi pasar masih waspada
Dari dalam negeri, Bank Indonesia sebelumnya melaporkan cadangan devisa Indonesia naik pada Juni 2026. BI menyebut posisi cadangan devisa akhir Juni 2026 mencapai US$145,6 miliar, naik tipis dari US$144,9 miliar pada akhir Mei.
Angka itu memberi ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga stabilitas pasar valas bila diperlukan. Namun, pasar tetap memantau apakah kenaikan cadangan devisa cukup kuat untuk meredam tekanan yang datang dari luar, apalagi saat dolar AS sedang bertenaga dan tensi geopolitik meningkat.
So what? Bagi masyarakat, rupiah tembus Rp18.000 berarti biaya impor bisa makin mahal, dari bahan baku industri sampai barang konsumsi tertentu. Bagi pelaku usaha, tekanan ini bisa memukul perhitungan harga pokok dan margin. Bagi investor, level ini jadi alarm bahwa volatilitas kurs belum selesai.
Kalau tekanan rupiah bertahan, pasar akan menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia dan sinyal baru dari The Fed. Satu angka di pasar valas bisa bergerak cepat. Dan pagi ini, angka itu sudah kembali menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.