JAKARTA — penurunan harga LNG menjadi kabar yang disambut Kementerian Perindustrian untuk industri nasional. Pemerintah memangkas harga liquefied natural gas bagi sektor industri menjadi US$13 per MMBTU dari sekitar US$20-23 per MMBTU, langkah yang disebut Kemenperin bisa membantu meredakan tekanan biaya produksi dan menjaga aktivitas pabrik tetap jalan.
Harga gas turun, beban pabrik ikut berkurang
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif, menyebut kebijakan itu datang pada waktu yang pas. Di saat banyak pelaku usaha masih menghitung ketat biaya energi, turunnya harga LNG memberi ruang bernapas yang nyata. “Kami mengapresiasi perhatian mendalam dan langkah konkret dari Bapak Sufmi Dasco Ahmad selaku Wakil Ketua DPR RI,” kata Febri dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Febri menambahkan, fasilitasi yang dilakukan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad untuk mempertemukan para pemangku kepentingan ikut mendorong lahirnya solusi atas persoalan gas industri. Dalam pandangan Kemenperin, langkah itu bukan sekadar forum diskusi. Ada dampak langsung ke lantai produksi. Ada hitungan biaya yang bisa berubah. Ada peluang produksi jadi lebih efisien.
Menurut Febri, kepastian pasokan gas bumi dengan harga yang kompetitif sangat penting bagi keberlangsungan investasi dan produktivitas sejumlah sektor industri strategis. Industri manufaktur selama ini sangat sensitif terhadap biaya energi. Saat harga gas melonjak, beban pabrik ikut naik. Saat suplai tidak pasti, jadwal produksi bisa terganggu. Efeknya merembet ke hulu dan hilir.
AGIT jadi titik krusial yang terus dikawal
Di luar penurunan harga LNG, Kemenperin juga membawa aspirasi pelaku usaha terkait implementasi kebijakan Alokasi Gas Industri Tertentu atau AGIT. Ini poin yang cukup penting. Soalnya, kuota gas yang sudah ditetapkan pemerintah belum tentu otomatis sampai ke pabrik sesuai rencana di lapangan.
Pelaku industri, kata Kemenperin, berharap kuota pasokan gas yang telah diputuskan pemerintah benar-benar direalisasikan penuh tanpa pemotongan atau curtailment. Mereka ingin pasokan diterima 100 persen sesuai regulasi. Bagi pelaku manufaktur, selisih pasokan sedikit saja bisa mengganggu kapasitas produksi. Di pabrik besar, dampaknya terasa cepat. Mesin tak bisa dipaksa terus berjalan jika suplai energi seret.
Kemenperin menegaskan ada tiga harapan utama dari industri. Pertama, penyaluran gas melalui skema AGIT harus dipenuhi penuh sesuai regulasi. Kedua, volume gas yang sudah dialokasikan tidak boleh dikurangi sepihak karena akan langsung memukul efisiensi pabrik. Ketiga, kepastian pasokan energi mesti dijaga agar daya saing produk Indonesia tetap kuat di pasar domestik maupun ekspor.
“Pelaku industri berharap agar apa yang sudah diputuskan oleh pemerintah terkait AGIT dapat direalisasikan sepenuhnya di lapangan. Tidak boleh ada pemotongan atau pengurangan volume, karena setiap penurunan pasokan akan langsung mengoreksi produktivitas manufaktur kita,” tegas Febri.
Daya saing industri jadi taruhan utama
Pemerintah menurunkan harga LNG untuk industri sebagai bagian dari upaya menjaga daya saing nasional dan mencegah pemutusan hubungan kerja. Dalam situasi harga gas dunia yang sempat tinggi, biaya produksi di sektor padat energi ikut tertekan. Karena itu, pemangkasan harga gas dipandang sebagai instrumen untuk menahan biaya produksi agar tidak terlalu jauh membebani pelaku usaha.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan keputusan tersebut diambil setelah koordinasi intensif antara pemerintah dan DPR dalam merespons dinamika geopolitik global yang berdampak pada sektor gas nasional. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/6). Artinya, kebijakan ini tidak muncul tiba-tiba. Ada pembahasan yang cukup panjang di belakangnya.
Bagi industri, harga bahan baku energi kerap menentukan ritme produksi. Kalau biaya gas turun, ruang untuk menekan ongkos produksi ikut terbuka. Itu penting bukan hanya untuk menjaga margin usaha, tapi juga untuk mencegah harga produk melonjak di pasar. Pada akhirnya, konsumen juga ikut merasakan dampaknya lewat stabilitas harga barang.
Kemenperin menyatakan akan terus mengawal hasil koordinasi bersama DPR RI serta kementerian dan lembaga terkait agar pasokan gas untuk industri tetap terjaga. Pengawalan ini menjadi penting karena kebijakan harga murah tanpa kepastian suplai bisa kehilangan efek. Sebaliknya, jika harga dan volume sama-sama terjaga, industri punya peluang lebih besar untuk menjaga produksi, mempertahankan tenaga kerja, dan memperkuat ekspor.
Di titik ini, penurunan harga LNG bukan sekadar angka di atas kertas. Bagi banyak pabrik, selisih dari sekitar US$20-23 per MMBTU ke US$13 per MMBTU berarti ada ruang untuk mengatur ulang biaya. Ada napas tambahan. Dan bagi sektor manufaktur yang sedang menjaga ketahanan usaha, angka itu cukup menggigit.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.