JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Patrick Moore, salah satu pendiri Greenpeace, kini mendukung energi nuklir setelah puluhan tahun dikenal sebagai tokoh lingkungan yang keras mengkritik teknologi itu. Perubahan sikap Moore kembali memantik perdebatan soal masa depan energi bersih, termasuk di Bangka Belitung yang sedang mencari arah industri baru.
Sikap Moore penting karena ia datang dari orang yang dulu berdiri di jantung gerakan anti-nuklir. Bagi banyak pemerhati energi, perubahan pandangannya menunjukkan satu hal: perdebatan soal nuklir tidak lagi sesederhana pro atau kontra, melainkan soal kebutuhan listrik, emisi karbon, dan keamanan teknologi.
Perubahan sikap dari aktivis lingkungan
Moore selama bertahun-tahun dikenal luas sebagai aktivis lingkungan. Bersama Greenpeace, ia ikut mendorong kampanye internasional menentang uji coba nuklir dan melindungi mamalia laut dari perburuan komersial.
Tapi ia kemudian mengambil jalan berbeda. Dalam wawancara dengan Politico pada 2008, Moore mengaku dulu sangat takut pada limbah radioaktif. “Saya selalu takut terhadap limbah nuklir. Saya berpikir bahwa jika berada terlalu dekat dengannya, saya bisa mati. Tetapi secara intelektual, saya juga menyadari bahwa teknologi ini sebenarnya dapat bekerja dengan aman,” katanya.
Pandangan itu tidak lahir tiba-tiba. Moore mulai memikirkan ulang sikapnya ketika isu perubahan iklim menguat pada akhir 1980-an. Saat itu, ia melihat kebutuhan dunia bukan cuma menambah pasokan energi, tapi juga menekan emisi karbon dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil.
Baginya, energi nuklir punya posisi yang sulit diabaikan. Pembangkit listrik tenaga nuklir bisa menghasilkan listrik dalam jumlah besar tanpa emisi karbon langsung saat operasi berlangsung. Itu membuatnya dipandang sebagian kalangan sebagai salah satu opsi energi bersih yang stabil.
Kenapa energi nuklir kembali dibahas
Perdebatan soal energi nuklir sebenarnya sudah lama ada. Penolakan biasanya datang dari tiga hal: biaya pembangunan yang mahal, limbah radioaktif, dan risiko keselamatan bila terjadi kecelakaan reaktor. Tiga isu ini terus menghantui reputasi nuklir sejak era Perang Dingin.
Moore berpendapat, banyak orang masih mencampuradukkan energi nuklir untuk listrik dengan senjata nuklir. Padahal, menurut dia, keduanya berbeda jauh dari sisi tujuan, desain, dan lapisan pengaman.
Ia juga menilai kemajuan teknologi dalam beberapa dekade terakhir telah mendorong standar keselamatan reaktor menjadi jauh lebih ketat.
Insiden besar seperti Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima, kata Moore, memang meninggalkan luka panjang, tetapi juga memaksa industri dan regulator membangun sistem pengamanan yang lebih disiplin.
Pernyataan itu sejalan dengan arah diskusi global saat ini. Banyak negara kembali melirik nuklir karena kebutuhan listrik bersih terus naik, sementara target pengurangan emisi makin ketat. Di saat yang sama, tenaga surya dan angin masih bergantung pada cuaca dan penyimpanan energi yang belum selalu murah.
Moore menekankan bahwa tantangan dunia sekarang bukan cuma menyediakan energi, melainkan menyediakan energi dalam skala besar tanpa memperparah krisis iklim.
“Siapa pun yang melihat kebutuhan energi modern secara realistis akan memahami bahwa energi nuklir harus menjadi bagian penting dari solusi perubahan iklim,” ujarnya.
Pelajaran untuk Bangka Belitung
Dari sini, perdebatan itu punya gema yang cukup dekat dengan Bangka Belitung. Provinsi ini punya cadangan timah yang besar, potensi logam tanah jarang, serta posisi strategis dalam rantai pasok industri teknologi dan energi masa depan. Pertanyaannya, bagaimana daerah ini membaca peluang itu secara rasional?
Di satu sisi, kehati-hatian tetap wajib. Nuklir bukan isu ringan. Publik berhak menuntut kajian keselamatan, kesiapan regulasi, sampai kemampuan negara mengelola limbah. Tapi di sisi lain, menutup diskusi sejak awal juga membuat daerah kehilangan kesempatan memahami teknologi yang sedang dibicarakan banyak negara.
Bangka Belitung kini berada di persimpangan penting. Saat banyak wilayah lain mulai menyiapkan hilirisasi dan industri berbasis energi bersih, daerah ini masih sering terjebak dalam debat yang lebih banyak didorong rasa takut ketimbang data. Padahal, jika negara-negara maju saja terus menimbang nuklir sebagai bagian dari bauran energi, diskusi lokal semestinya naik kelas: dari sekadar curiga menjadi kajian yang serius.
Moore, dengan seluruh rekam jejaknya di Greenpeace, memberi contoh bahwa pandangan bisa berubah ketika fakta dan kebutuhan baru muncul. Ia tidak berhenti menjadi pegiat lingkungan. Ia justru menilai energi nuklir bisa menjadi alat untuk melindungi lingkungan dari dampak perubahan iklim yang semakin berat.
“Pertanyaannya bukan apakah kita menyukai energi nuklir atau tidak. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menyediakan energi yang cukup bagi masyarakat modern sekaligus mengurangi emisi karbon secara signifikan,” terangnya.
Bagi Bangka Belitung, pertanyaan itu terasa makin relevan. Pilihannya sekarang bukan sekadar setuju atau menolak. Yang dibutuhkan adalah ruang diskusi yang jernih, berbasis data, dan berani menimbang masa depan tanpa dibayangi ketakutan semata.
Di titik itu, energi nuklir bukan lagi sekadar isu teknis. Ia jadi cermin: apakah daerah siap belajar dari perubahan, atau tetap berhenti pada prasangka lama.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.