PANGKALPINANG, JOURNALARTA.COM – Pengungkapan narkoba di Bangka Belitung meningkat 11,5 persen sepanjang 1 Januari sampai 29 Juni 2026. Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama polres jajaran mengungkap 289 kasus dan menangkap 344 tersangka dalam periode itu.
Dampaknya jelas. Angka ini bukan cuma soal kerja aparat yang bertambah padat, tapi juga sinyal bahwa pasar narkotika di Babel masih bergerak dan belum berhasil diputus. Dari sisi barang bukti, polisi ikut menyita sabu, ganja, dan ekstasi dalam jumlah besar, dengan ganja dan ekstasi mencatat kenaikan paling tajam.
Kasus dan tersangka ikut naik
Direktur Reserse Narkoba Polda Kepulauan Bangka Belitung, Ronald F. Sipayung, membandingkan capaian semester pertama 2026 dengan periode yang sama pada 2025. Tahun lalu, jumlah kasus yang diungkap masih 259 kasus, sedangkan tersangka yang diamankan 298 orang.
“Kalau kita bandingkan lagi dengan tahun 2024, ternyata jumlah atau angka peningkatannya mencapai 25,6 persen untuk kasus yang berhasil diungkap. Jadi artinya, dari tahun ke tahun jumlah peredaran narkoba atau kasus yang berhasil diungkap justru meningkat,” kata Ronald.
Ia menegaskan, kenaikan pengungkapan jangan dibaca sebagai kabar baik semata. Menurut dia, itu juga berarti aktivitas peredaran narkoba masih cukup aktif di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan perlu ditekan lewat kerja bersama.
Ronald menyebut pencegahan tidak bisa dibebankan kepada kepolisian saja. Pemerintah daerah, sekolah, tokoh agama, tokoh masyarakat, media massa, dan warga perlu ikut masuk dalam barisan yang sama.
Sabu, ganja, dan ekstasi jadi sorotan
Sepanjang semester pertama 2026, polisi menyita 13.689 gram sabu, 28,5 kilogram ganja, dan 6.814 butir ekstasi. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ganja hampir dua kali lipat, sedangkan ekstasi naik lebih dari dua kali lipat.
Ronald membaca kenaikan itu sebagai petunjuk adanya perubahan pola konsumsi di lapangan. “Hal ini bisa kami analisis, kemungkinan para pengguna mulai beralih menggunakan narkotika golongan I jenis ganja,” ujarnya.
Ia juga menilai kenaikan barang bukti ganja dan ekstasi menunjukkan permintaan terhadap dua jenis narkotika itu belum turun. Soal ini, polisi tak ingin berhenti pada penindakan. Mereka tetap mengandalkan upaya preventif, edukasi, dan penguatan kampung tangguh anti-narkoba.
Di Pangkalpinang, Polda Babel bersama Polresta Pangkalpinang masih membina sejumlah Kampung Tangguh Anti-Narkoba. Program itu dipakai untuk mempersempit ruang gerak pengedar sekaligus memperkuat pengawasan dari tingkat lingkungan paling dekat dengan warga.
Penyelidikan jaringan masih berjalan
Ronald juga mengungkapkan, pihaknya sedang menyelidiki sejumlah perkara yang diduga terkait jaringan peredaran narkoba. Hasil penyelidikan itu direncanakan diumumkan dalam konferensi pers tersendiri pada pekan depan.
“Kami saat ini sedang melakukan penyelidikan terhadap beberapa perkara. Mungkin akan kita rilis minggu depan. Mudah-mudahan hasil penyelidikan ini bisa segera disampaikan,” kata dia.
Langkah itu penting karena pengungkapan kasus di tingkat pengguna atau kurir sering kali hanya membuka satu lapisan kecil dari rantai peredaran. Jaringan di atasnya masih bisa berjalan kalau penindakan tak menyentuh sumber pasokan, alur distribusi, dan jejaring pemasaran.
Bagi masyarakat Bangka Belitung, data semester pertama 2026 memberi gambaran bahwa ancaman narkoba masih nyata. Di banyak daerah, peningkatan kasus seperti ini sering berujung pada beban sosial lain: keresahan lingkungan, kerentanan remaja, dan biaya penegakan hukum yang terus membesar.
Ronald menutup keterangannya dengan peringatan keras. “Penindakan dari tahun ke tahun memang meningkat. Namun, hal itu menunjukkan bahwa peredaran narkoba ternyata belum berkurang, bahkan secara kuantitas justru terus bertambah setiap tahunnya,” ujarnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.