Selasa, 30 Juni 2026 WIB
BREAKING
HUKUM KRIMINAL

Ribuan Demonstran Serbia Terus Protes Meski Vucic Janji Turun Tahta

Ribuan demonstran Serbia menggelar aksi protes damai di alun-alun Kraljevo sambil membawa bendera nasional dan spanduk bertul
Ribuan demonstran Serbia terus protes di Kraljevo meski Vucic janji mundur. (Ilustrasi: AI)

BEOGRAD — Ribuan demonstran tetap memadati kota Kraljevo, Serbia, Minggu kemarin, menggelar aksi unjuk rasa massal meski Presiden Aleksandar Vucic telah menjanjikan akan mundur dalam beberapa minggu ke depan untuk membuka jalan bagi pemilihan presiden dan parlemen awal. Mereka tidak puas. Kekhawatiran justru menggantikan rasa lega—takut bahwa janji itu hanya sekedar topeng, bukan komitmen nyata.

“Saya tak bisa membayangkan dia benar-benar mundur dan menyerahkan kekuasaan ke orang lain,” ujar Marko Djokic, ahli IT berusia 41 tahun yang pulang ke kampung halamannya mengikuti aksi massa di Kraljevo. Nada skeptisnya mencerminkan sentimen ribuan peserta lainnya yang berkumpul di alun-alun pusat kota itu.

Janji yang Menggantung

Vucic, yang telah berkuasa selama 12 tahun baik sebagai perdana menteri maupun presiden, menghadapi momentum protes yang terus bergolak sejak akhir 2024. Gelombang penolakan ini dipicu oleh tragedi runtuhnya atap beton di stasiun kereta api Novi Sad pada 1 November 2024, yang menewaskan 16 orang—sebagian besar pelajar dan pengguna transportasi publik.

Bencana itu menjadi titik ledak. Para mahasiswa menjadi garda depan gerakan, namun kini meluas ke berbagai lapisan masyarakat—dari pekerja pabrik hingga pensiunan. Mereka menganggap runtuhnya atap sebagai simbol nyata dari 12 tahun ketidakpedulian dan manajemen buruk di bawah kepemimpinan Vucic. Bukan hanya tentang infrastruktur yang tidak dirawat, melainkan tentang sistem yang gagal melindungi warganya.

Di Kallas Stara Kapija, alun-alun historis Kraljevo, suhu memanas saat ribuan pengunjuk rasa berkumpul. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Para Mahasiswa Menang”—sebuah pesan yang menekankan daya tekan gerakan yang telah menggerakkan jutaan suara di jalanan Serbia dalam sebulan terakhir. Bendera merah-putih-biru berkibar-kibar di antara kerumunan, sementara aksi berlangsung damai meski tegang. Polisi berjaga dari jauh. Tidak ada bentrokan, hanya tekanan—tekanan yang terasa di setiap kata yang diucapkan peserta.

Skeptisisme Mendalam Terhadap Kepemimpinan

Jaminan Vucic untuk turun dari kursi presiden terasa belum cukup untuk meredakan amarah publik. Banyak yang melihat janji ini sebagai taktik penyelamatan diri di saat tekanan meningkat, bukan pengakuan jujur atas tuntutan rakyat. Pasalnya, Vucic belum menjelaskan siapa penggantinya atau bagaimana transisi kekuasaan akan dilakukan secara transparan.

“Dia mengatakan akan mundur, tapi siapa yang akan menggantikan? Anaknya? Salah satu menteri? Kami tidak tahu,” kata Jelena Markovic, seorang guru sekolah menengah berusia 38 tahun yang juga hadir di Kraljevo. “Itu hanya permainan. Permainan lama yang kami sudah lelah mainkan.”

Kekhawatiran Markovic bukan tanpa dasar. Dalam sejarah Balkan pasca-1990, janji penyerahan kekuasaan dari pemimpin otokratis sering menjadi sandiwara. Pelepasan jabatan formal tidak selalu diikuti dengan pelepasan pengaruh nyata. Vucic sendiri, ketika menjadi perdana menteri (2012-2017), masih mempertahankan kendali atas partai dan negara bahkan setelah naik menjadi presiden. Pola ini menciptakan kecurigaan yang mendalam di kalangan demonstran.

Gerakan Meluas ke Seluruh Negara

Sejak awal November 2024, protes telah mencakup lebih dari 20 kota Serbia. Menurut data dari organisasi pemantau hak asasi manusia lokal, setidaknya 500.000 orang telah turun ke jalan dalam berbagai aksi. Jumlah itu terus bertambah setiap minggu, khususnya di kalangan mahasiswa dan kelompok usia muda (18-35 tahun) yang menganggap masa depan mereka terancam oleh mismanajemen dan korupsi sistemik.

Gelombang di Kraljevo adalah bagian dari momentum yang lebih besar. Kota berjarak sekitar 180 kilometer tenggara Beograd ini dipilih sebagai lokasi aksi karena relevansinya—Kraljevo adalah pusat industri otomotif Serbia, dan banyak pengangguran muda membuatnya menjadi hotspot penolakan terhadap ekonomi yang stagnan.

Apa Yang Sebenarnya Mereka Minta?

Tuntutan demonstran tidak hanya sekadar mundur Vucic. Mereka menginginkan reformasi struktural: transparansi dalam proyek infrastruktur, pertanggungjawaban atas kesalahan yang menyebabkan 16 orang tewas, pencegahan korupsi dalam tender publik, dan—yang paling penting—pemilihan yang benar-benar bebas dan adil tanpa manipulasi pemerintah.

Para penganalisis politik mencatat bahwa gerakan ini mencerminkan kelesuan kepercayaan publik terhadap institusi pemerintah yang dianggap lamban bereaksi, tidak responsif, dan penuh kolusi. “Ini adalah momentum perubahan generasional,” ujar dr. Bojan Pajtic, penganalisis politik dari University of Belgrade’s Institute for Political Studies, dalam wawancara virtual minggu lalu. “Generasi muda Serbia tidak lagi menerima janji kosong. Mereka ingin bukti nyata dan perubahan sistemik.”

Pernyataan Pajtic didukung oleh fakta: tingkat keterlibatan pemilih muda dalam aksi ini mencapai rekor tertinggi dalam dua dekade terakhir. Media sosial, khususnya TikTok dan Instagram, telah menjadi alat mobilisasi yang sangat efektif, menyebarkan pesan protes ke seluruh penjuru negara dalam hitungan jam.

Jalan Ke Depan: Ketidakpastian dan Harapan

Vucic dijadwalkan mengumumkan detail transisi kekuasaan dalam konferensi pers minggu depan. Namun, demonstran di Kraljevo dan kota lain sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan bahwa janji itu akan disamarkan dengan bahasa teknis atau kebijakan paruh jalan yang tidak mengubah substansi.

Momentum ini memaksa Vucic untuk bergerak cepat. Namun, keragu-raguan demonstran mencerminkan pengalaman historis: janji pemimpin di Serbia jarang terwujud seperti janji, khususnya ketika menyangkut penyerahan kekuasaan sejati. Kekhawatiran bahwa Vucic mungkin hanya menyingkirkan diri dari garis depan tanpa benar-benar melepas pengaruh tetap menjadi titik tekan utama protes yang berlanjut.

Gelombang aksi di Kraljevo dan kota-kota lain menunjukkan pola yang jelas: masyarakat Serbia tidak akan berhenti sampai perubahan nyata terjadi—bukan sekadar pemufakatan di level puncak atau permainan kekuasaan di balik layar. Jika Vucic serius dengan janji mundur, ia harus membuktikan dengan tindakan konkret. Jika tidak, gelombang ini hanya akan terus membesar.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda