Rabu, 1 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Dolar AS Dekati Rp 18.000, Rupiah Tertekan Pagi Ini

Dolar AS Dekati Rp 18.000, Rupiah Tertekan Pagi Ini
Wikimedia Commons

JAKARTA — dolar AS kembali menekan rupiah pada Rabu pagi, 1 Juli, dan sempat bergerak di kisaran Rp17.900-an saat pembukaan perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Amerika Serikat itu berada di level Rp17.944 pada pukul 09.05 WIB, lalu naik lagi ke Rp17.975 lima menit kemudian.

Pergerakan ini membuat pasar kembali menatap area psikologis Rp18.000. Angka itu penting bukan hanya untuk pelaku pasar valas, tapi juga buat importir, pelaku usaha, dan konsumen yang sensitif terhadap biaya barang impor.

dolar AS menguat, rupiah ikut tertekan

Tekanan pada rupiah muncul di saat dolar AS masih mendapat dukungan dari pasar global. Dalam pembanding data yang dikutip CNBC Indonesia, rupiah dibuka melemah ke Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi, nyaris menyentuh batas psikologis Rp18.000. Pada penutupan sehari sebelumnya, rupiah juga sudah berada di zona rapuh.

Selisih kecil di awal perdagangan seperti ini sering jadi sinyal. Pasar belum tenang. Pelaku transaksi cenderung hati-hati, apalagi jika volatilitas dolar masih tinggi dan sentimen luar negeri belum memberi ruang bagi mata uang emerging market untuk bernapas lebih lega.

Data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB menunjukkan dolar AS menguat 0,21 persen. Pada 09.10 WIB, penguatannya berlanjut. Ini berarti tekanan terhadap rupiah bukan sekadar gerak sesaat, melainkan bagian dari arus yang lebih besar di pasar valuta asing pagi itu.

Tekanan global belum mereda

Di pasar internasional, dolar AS juga bergerak variatif terhadap mata uang utama lain. Terhadap euro, greenback justru melemah 0,15 persen. Terhadap pound sterling, turun 0,20 persen. Lalu terhadap dolar Australia, pelemahannya lebih dalam, mencapai 0,51 persen.

Namun pada mata uang lain, dolar AS tetap menunjukkan tenaga. Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,09 persen. Terhadap franc Swiss naik 0,10 persen, dan terhadap dolar Kanada menguat 0,18 persen.

Pola campuran seperti ini menunjukkan pasar global belum punya arah tunggal. Tapi dalam konteks rupiah, yang lebih terasa adalah sisi kuat dolar. Selama permintaan terhadap aset dolar masih tinggi, mata uang negara berkembang cenderung berada di bawah tekanan.

Dalam laporan yang dikutip CNBC Indonesia, penguatan dolar AS juga ditopang ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Federal Reserve. Pasar menimbang kemungkinan bank sentral AS masih punya ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan membuka peluang kenaikan lagi pada sisa tahun ini.

Sentimen itu muncul setelah data pasar tenaga kerja AS masih kuat. Lowongan kerja di Negeri Paman Sam pada Mei naik 9.000 menjadi 7,594 juta, lebih tinggi dari perkiraan 7,296 juta. Angka ini juga berada di atas revisi data April sebesar 7,585 juta.

Kenapa level Rp18.000 penting

Level Rp18.000 bukan cuma angka bulat. Buat pelaku pasar, ini garis yang mudah dilihat dan sering dijadikan acuan emosi pasar. Saat rupiah bergerak dekat titik itu, spekulasi biasanya ikut naik. Pedagang valas, pelaku impor, dan perusahaan dengan kewajiban dolar akan memantau pergerakannya lebih ketat.

Bagi masyarakat, dampaknya terasa lewat barang impor, harga bahan baku, hingga biaya produksi. Tidak semua kenaikan kurs langsung merembes ke harga ritel, tapi tekanan itu bisa muncul bertahap. Barang elektronik, obat-obatan tertentu, bahan pangan impor, sampai ongkos logistik bisa ikut terimbas jika pelemahan rupiah bertahan.

Pasar juga akan mencermati dua hal dalam waktu dekat: data ekonomi AS berikutnya dan sikap The Fed. Jika data tenaga kerja atau inflasi tetap kuat, dolar AS berpeluang mempertahankan posisinya. Kalau itu terjadi, rupiah belum tentu cepat lepas dari tekanan.

Untuk hari ini, posisi aman rupiah masih bergantung pada minat pasar terhadap aset berisiko dan arah dolar di sesi berikutnya. Satu yang jelas, pembukaan Juli dimulai dengan tekanan yang nyata. Dan pasar belum menunjukkan tanda-tanda lega.

Catatan sumber: data pergerakan kurs mengacu pada Bloomberg, sementara konteks penguatan dolar AS di pasar global mengacu pada laporan CNBC Indonesia yang merujuk data Refinitiv dan data tenaga kerja AS.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda