Rabu, 1 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Indonesia Financial Centre Bakal Jadi KEK Baru di Bali

Indonesia Financial Centre Bakal Jadi KEK Baru di Bali
Foto: Ndecam/flickr (BY)

JAKARTA — Indonesia kini menapaki langkah ambisius dengan menetapkan Bali sebagai lokasi strategis pengembangan Indonesia Financial Centre (IFC) atau Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Proyek ini diproyeksikan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mandiri yang memisahkan diri dari ekosistem KEK Kura-Kura Bali maupun KEK Sanur guna menciptakan pusat layanan keuangan dengan standar global.

Pemerintah bergerak cepat merampungkan regulasi pendukung untuk menjamin kepastian bagi investor mancanegara. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengonfirmasi bahwa draf aturan terkait sedang berproses di DPR RI. Pemerintah mengejar target pengesahan undang-undang sebagai fondasi hukum yang kokoh agar kawasan ini mampu beroperasi secara kompetitif di tingkat regional maupun internasional.

Mengapa Bali Dipilih sebagai Hub Keuangan?

Pemilihan Bali bukan sekadar keputusan administratif. Pulau Dewata sudah memiliki ekosistem yang matang dalam mendukung mobilitas internasional, mulai dari aksesibilitas penerbangan langsung hingga infrastruktur pendukung gaya hidup kelas atas yang sering dicari oleh para pelaku bisnis global.

Langkah ini adalah strategi nyata untuk merebut pangsa pasar pusat keuangan yang selama ini didominasi Singapura atau Dubai. Airlangga memberikan perbandingan yang cukup mencolok dalam forum di Jakarta, Selasa (24/6/2026). Realisasi investasi nasional secara tradisional kini berada di angka Rp2.200 triliun per tahun. Angka ini memang besar, tetapi masih jauh dari cakupan pusat keuangan dunia yang bisa menarik hingga US$800 miliar per tahun.

Perbedaan skala inilah yang ingin dikejar pemerintah. Dengan membangun kawasan dengan regulasi keuangan khusus, arus modal asing diharapkan tidak hanya mengalir ke sektor riil, tetapi juga ke instrumen finansial yang lebih kompleks.

Insentif Pajak dan Daya Saing Global

Daya tarik utama yang tengah dirumuskan pemerintah terletak pada skema insentif pajak yang sangat kompetitif. Opsi pemberian pajak nol persen untuk aktivitas tertentu sedang di atas meja. Langkah ini diambil untuk memastikan Indonesia memiliki instrumen negosiasi yang setara dengan yurisdiksi keuangan global lainnya.

Kepastian hukum menjadi kata kunci di sini. Investor global tidak akan menanamkan modal dalam jumlah besar jika regulasi berubah-ubah. Oleh karena itu, pengesahan undang-undang menjadi syarat mutlak sebelum kawasan ini benar-benar dibuka. Pemerintah menyadari bahwa kompetisi menarik modal asing kini terjadi secara agresif di Asia Tenggara, di mana negara tetangga juga terus memperbaiki iklim investasi mereka.

Belajar dari KEK Eksisting di Bali

Pemerintah tidak memulai dari nol dalam mengelola kawasan khusus di Bali. Keberhasilan KEK Kura-Kura Bali dan KEK Sanur dalam mencatatkan realisasi investasi dan penyerapan tenaga kerja menjadi indikator kuat bahwa model kawasan ekonomi ini dapat diandalkan untuk menstimulasi ekonomi daerah.

Kawasan Ekonomi Khusus Realisasi Investasi (Kuartal I-2026) Tenaga Kerja
KEK Kura-Kura Bali Rp1,62 Triliun 2.146 Orang
KEK Sanur Rp5,37 Triliun 5.444 Orang

Data di atas menunjukkan bagaimana integrasi antara sektor pariwisata, kesehatan, dan ekonomi kreatif mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi lokal. KEK Sanur, misalnya, tidak hanya menarik modal tetapi juga berhasil memacu kunjungan sebanyak 279.804 orang hingga kuartal I-2026. Keberhasilan ini memberikan kepercayaan diri bagi pemerintah bahwa Bali memiliki daya dukung yang kuat untuk mengintegrasikan sektor keuangan ke dalam struktur ekonominya.

Fokus pada Kawasan Mandiri

Pemerintah berkomitmen menjaga agar Indonesia Financial Centre tetap fokus pada tujuannya. Airlangga menegaskan bahwa kawasan ini akan berdiri secara eksklusif. Tidak ada pencampuran operasional dengan kawasan wisata yang sudah ada. Keputusan ini merupakan arahan langsung Presiden agar pengembangan pusat finansial memiliki fokus yang tajam dan tidak terdistraksi oleh aktivitas di luar sektor keuangan.

Dengan memisahkan lokasi, pemerintah ingin menciptakan zona yang benar-benar dirancang untuk transaksi finansial, pengelolaan dana, serta aktivitas perbankan internasional. Ini penting untuk menghindari tumpang tindih regulasi antar kawasan dan memberikan fokus operasional bagi otoritas pengelola kawasan nantinya.

Menatap Masa Depan Ekonomi Nasional

Keberadaan pusat finansial ini diprediksi akan menjadi salah satu mesin penggerak ekonomi baru bagi Indonesia. Jika proyek ini berhasil, akan terjadi pergeseran paradigma dari investasi berbasis komoditas dan industri manufaktur tradisional menuju ekonomi berbasis layanan keuangan kelas dunia.

Saat ini, fokus utama pemerintah tetap pada akselerasi pembahasan di parlemen. Dukungan penuh dari legislatif diharapkan dapat segera membuka pintu bagi investor global yang telah menunjukkan minat besar terhadap prospek pusat keuangan di Indonesia. Ke depan, keberhasilan kawasan ini akan diuji oleh seberapa cepat aturan turunan operasional bisa diselesaikan dan seberapa agresif promosi yang akan dilakukan pemerintah kepada komunitas keuangan internasional di luar negeri.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda