JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Gempa Juni 2026 di Indonesia tercatat aktif sepanjang awal bulan, dengan dua kejadian besar yang paling menyita perhatian yaitu M6.7 mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, pada 16 Juni 2026, dan M7.7 dari Filipina pada 8 Juni 2026 sempat memicu peringatan tsunami kecil di Sulawesi Utara.
Rangkaian gempa itu berdampak langsung. Di Palu dan Sigi, korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan bangunan membuat warga harus waspada terhadap gempa susulan. Di wilayah utara Sulawesi, sensor pasang surut BMKG merekam kenaikan muka air laut beberapa sentimeter hingga puluhan sentimeter sebelum peringatan tsunami dicabut pada hari yang sama.
Gempa M6.7 di Palu rusak ribuan bangunan
Gempa terkuat di dalam negeri terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026 pukul 10.27 WIB. BMKG mencatat magnitudo 6,7 dengan kedalaman 10 kilometer, berpusat di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.
Getaran gempa dirasakan kuat pada skala VI-VII MMI di Palu dan Sigi. Di Parigi Moutong, Donggala, dan Poso, intensitasnya berada pada level V-VI MMI. Dampaknya tidak kecil. BMKG bersama BPBD melaporkan 3 orang tewas dan 125 orang luka-luka.
Kerusakan paling parah tercatat di Sigi, dengan lebih dari 2.500 bangunan rusak atau hancur. Jembatan Palu III juga retak. Atap Hotel Santika dan sebuah kafe runtuh akibat guncangan.
BMKG menyebut gempa itu dipicu aktivitas Sesar Sausu atau Palolo. Hingga Selasa siang, lembaga itu mencatat lebih dari 1.176 gempa susulan, dengan yang terbesar bermagnitudo 5,2. BMKG menegaskan gempa itu tidak berpotensi tsunami.
Gempa M7.7 Filipina sempat picu peringatan tsunami
Gempa besar kedua terjadi pada Senin, 8 Juni 2026 pukul 06.37 WIB. Episentrumnya berada di laut, sekitar 244 kilometer barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara. BMKG mencatat magnitudo 7,7 dengan kedalaman 47 kilometer.
Dampaknya terasa sampai wilayah utara Sulawesi. BMKG sempat mengeluarkan peringatan tsunami setelah gempa di Mindanao, Filipina, itu. Sensor tide gauge mendeteksi kenaikan muka air laut di beberapa titik.
Di Melonguane, muka air laut naik 0,32 meter pada pukul 07.27 WIB. Di Tahuna, kenaikannya 0,3 meter pada pukul 06.58 WIB. Sementara itu, di Talengan tercatat 0,75 meter pada pukul 08.20 WIB. Warga Miangas dan Melonguane juga merasakan getaran hingga VI MMI.
Peringatan tsunami kemudian berakhir pada siang hari. BMKG juga mencatat rentetan susulan dari gempa Filipina. Sampai 9 Juni 2026 pukul 14.00 WIB, tercatat 152 gempa susulan, dengan yang terbesar M6.7.
Dua gempa susulan lain, M5.1 pukul 13.15 WIB dan M5.3 pukul 23.49 WIB di Laut Sulawesi sekitar Sangihe, ikut masuk catatan BMKG. Lembaga itu kembali menegaskan kejadian tersebut tidak berpotensi tsunami.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.