TOKYO — USD/JPY Hari Ini bergerak dengan nada lebih waspada setelah pejabat Jepang mengubah cara berbicara soal intervensi pasar valuta asing. Pemerintah di Tokyo kini tak lagi memberi petunjuk terang tentang kapan mereka akan masuk ke pasar, langkah yang membuat pelaku spekulasi yen harus berhitung ulang.
Bagi trader, ini berarti risiko datangnya intervensi mendadak makin besar. Bagi pembaca umum, dampaknya bisa terasa ke harga impor, biaya barang dari luar negeri, sampai arah inflasi Jepang yang selama ini ikut ditekan oleh pelemahan yen.
Tokyo ubah taktik, pasar dibuat menebak-nebak
Dua sumber yang mengetahui pembahasan itu mengatakan Kementerian Keuangan Jepang tidak lagi memakai pola peringatan yang biasanya lebih terbuka sebelum intervensi dilakukan. Kalau sebelumnya pejabat memberi sinyal agar pasar bisa membaca batas risiko, kali ini Tokyo memilih diam. Sunyi, tapi sengaja.
Menurut sumber itu, pendekatan baru ini dirancang untuk memukul spekulan yang bertaruh melawan yen. Pemerintah tak lagi menyebut garis batas nilai tukar yang bisa memicu aksi. Artinya, pasar tidak diberi patokan jelas soal kapan Jepang akan bertindak.
“Itu bukan soal level yen,” kata salah satu sumber. “Yang penting adalah bagaimana mencegah penurunan yang berlebihan.”
Dengan strategi seperti ini, otoritas berharap biaya untuk membuka posisi short yen naik tajam. Jika pasar tak bisa menebak timing intervensi, risiko rugi ikut membesar. Dan itu yang sedang dicari Tokyo.
USD/JPY Hari Ini dan ancaman intervensi mendadak
Langkah Kementerian Keuangan itu sejalan dengan nada hawkish Bank of Japan (BOJ). Bank sentral Jepang belakangan terus mengingatkan bahwa yen yang lemah mendorong inflasi lewat kenaikan biaya impor. Wakil Gubernur BOJ Ryozo Himino pada Juni lalu mengatakan pergerakan mata uang termasuk faktor kunci bagi ekonomi dan inflasi Jepang.
BOJ sudah menaikkan suku bunga bulan lalu, tetapi pelemahan yen belum berhenti. Pada perdagangan tengah hari di Tokyo, Kamis, kurs yen berada di sekitar 162,50 per dolar AS, setelah sempat jatuh ke 162,66 per dolar pada Selasa. Itu mendekati posisi terendah dalam empat dekade.
Pasar masih ingat aksi Tokyo sebelumnya. Jepang menghabiskan rekor 11,7 triliun yen atau sekitar 72 miliar dolar AS untuk intervensi pasar valuta asing antara akhir April dan awal Mei. Namun, efeknya hanya singkat. Yen sempat menguat, lalu kembali tertekan seiring dolar melaju lagi.
Itulah sebabnya banyak pelaku pasar sekarang lebih waspada. Intervensi yang diumumkan terlalu cepat memberi waktu bagi trader untuk menutup posisi short. Intervensi yang senyap justru lebih menakutkan. Sekali turun tangan, pasar bisa panik lebih dulu.
Suku bunga Jepang masih jauh tertinggal
Masalah utama yen tetap sama: selisih suku bunga. Kebijakan BOJ masih jauh lebih longgar dibanding Federal Reserve. Suku bunga acuan Jepang kini 1 persen, sementara suku bunga acuan AS masih berada di kisaran 3,50 persen sampai 3,75 persen. Celah ini membuat aset dolar tetap lebih menarik bagi investor global.
Tak heran tekanan jual pada yen belum hilang. Pernyataan-pernyataan hawkish dari The Fed juga ikut mengangkat dolar. Di sisi lain, pelaku pasar menilai BOJ perlu bergerak lagi kalau inflasi dan pertumbuhan ekonomi benar-benar mendukung.
Atsushi Mimura, diplomat valuta asing utama Jepang, disebut sebagai pejabat yang memegang keputusan soal kapan intervensi dilakukan. Menurut sumber, Mimura menahan diri untuk tidak mengeluarkan peringatan verbal baru sejak intervensi terakhir. Menteri Keuangan Satsuki Katayama juga tak menaikkan tensi pada Selasa, hanya menyampaikan bahwa Jepang siap merespons secara tepat kapan saja.
Masuk akal kalau Tokyo tak ingin memancing spekulasi lebih jauh. Setiap pernyataan resmi yang terlalu rinci bisa dibaca pasar sebagai petunjuk. Begitu petunjuk muncul, efek ke spekulan langsung berkurang.
Data ekonomi ikut menekan atau menyelamatkan yen
Harapan Jepang kini juga bertumpu pada data ekonomi Amerika Serikat. Sebagian pejabat berharap data ketenagakerjaan AS yang dirilis Kamis bisa mengurangi ekspektasi pasar atas pemangkasan suku bunga Fed yang cepat. Jika itu terjadi, dolar berpeluang kehilangan sebagian tenaganya dan tekanan pada yen bisa mereda.
Kalau tidak, pintu intervensi bisa terbuka lebih lebar. Rinto Maruyama, ahli strategi valas dan suku bunga di SMBC Nikko Securities, menilai sikap diam Mimura membuat pasar makin sulit membaca waktu intervensi berikutnya.
“Dengan tidak berkomentar soal yen, Mimura mungkin sedang membuat pasar lebih susah menebak kapan langkah berikutnya datang,” kata Maruyama.
Faktor eksternal lain juga penting: posisi negara-negara G7, terutama Amerika Serikat. Intervensi mata uang biasanya lebih mudah dibenarkan jika ditujukan untuk meredam pergerakan yang tidak tertib. Masalahnya, laju pelemahan yen kali ini berlangsung perlahan, nyaris seperti turun tangga satu per satu. Itu membuat dukungan Washington belum tentu otomatis.
Meski begitu, tekanan terhadap yen belum surut. Survei tankan kuartalan BOJ pada Rabu menunjukkan sentimen bisnis naik ke level tertinggi delapan tahun, sementara ekspektasi inflasi korporasi mencapai rekor baru. Bagi BOJ, sinyal itu memperkuat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga jika kondisi ekonomi memungkinkan.
Menurut Mari Iwashita, ahli strategi suku bunga eksekutif di Nomura Securities, kerja sama BOJ tetap dibutuhkan untuk menghentikan pelemahan yen. “Suku bunga Jepang masih rendah dibanding negara lain. Dukungan BOJ diperlukan untuk menghentikan penurunan yen,” ujarnya.
Pasar sekarang memantau dua hal sekaligus: apakah Tokyo benar-benar akan bergerak tanpa peringatan, dan apakah The Fed memberi ruang napas bagi yen lewat arah kebijakan suku bunganya. Untuk sementara, USD/JPY Hari Ini masih menjadi taruhan yang mahal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.