Pasar masih ingat aksi Tokyo sebelumnya. Jepang menghabiskan rekor 11,7 triliun yen atau sekitar 72 miliar dolar AS untuk intervensi pasar valuta asing antara akhir April dan awal Mei. Namun, efeknya hanya singkat. Yen sempat menguat, lalu kembali tertekan seiring dolar melaju lagi.
Itulah sebabnya banyak pelaku pasar sekarang lebih waspada. Intervensi yang diumumkan terlalu cepat memberi waktu bagi trader untuk menutup posisi short. Intervensi yang senyap justru lebih menakutkan. Sekali turun tangan, pasar bisa panik lebih dulu.
Suku bunga Jepang masih jauh tertinggal
Masalah utama yen tetap sama: selisih suku bunga. Kebijakan BOJ masih jauh lebih longgar dibanding Federal Reserve. Suku bunga acuan Jepang kini 1 persen, sementara suku bunga acuan AS masih berada di kisaran 3,50 persen sampai 3,75 persen. Celah ini membuat aset dolar tetap lebih menarik bagi investor global.
Tak heran tekanan jual pada yen belum hilang. Pernyataan-pernyataan hawkish dari The Fed juga ikut mengangkat dolar. Di sisi lain, pelaku pasar menilai BOJ perlu bergerak lagi kalau inflasi dan pertumbuhan ekonomi benar-benar mendukung.
Atsushi Mimura, diplomat valuta asing utama Jepang, disebut sebagai pejabat yang memegang keputusan soal kapan intervensi dilakukan. Menurut sumber, Mimura menahan diri untuk tidak mengeluarkan peringatan verbal baru sejak intervensi terakhir. Menteri Keuangan Satsuki Katayama juga tak menaikkan tensi pada Selasa, hanya menyampaikan bahwa Jepang siap merespons secara tepat kapan saja.
Masuk akal kalau Tokyo tak ingin memancing spekulasi lebih jauh. Setiap pernyataan resmi yang terlalu rinci bisa dibaca pasar sebagai petunjuk. Begitu petunjuk muncul, efek ke spekulan langsung berkurang.
Data ekonomi ikut menekan atau menyelamatkan yen
Harapan Jepang kini juga bertumpu pada data ekonomi Amerika Serikat. Sebagian pejabat berharap data ketenagakerjaan AS yang dirilis Kamis bisa mengurangi ekspektasi pasar atas pemangkasan suku bunga Fed yang cepat. Jika itu terjadi, dolar berpeluang kehilangan sebagian tenaganya dan tekanan pada yen bisa mereda.
Kalau tidak, pintu intervensi bisa terbuka lebih lebar. Rinto Maruyama, ahli strategi valas dan suku bunga di SMBC Nikko Securities, menilai sikap diam Mimura membuat pasar makin sulit membaca waktu intervensi berikutnya.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.