JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan terbaru yang dikutip pada 3 Juli 2026 yaitu tentang Fenomena El Nino yang semakin menguat dan berpotensi berlangsung hingga awal 2027.
Ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa, melainkan peristiwa iklim berskala global yang memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga ketahanan pangan dan energi di banyak negara, termasuk Indonesia.
Apa Itu El Nino?
Secara sederhana, El Nino adalah pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur secara signifikan di atas batas normal. Kondisi ini mengubah sirkulasi angin dan awan di seluruh dunia, sehingga menggeser pola hujan dan suhu di berbagai wilayah.
Berdasarkan data terbaru:
- Peluang terjadinya: 96% kemungkinan bertahan hingga Desember 2026 – Februari 2027
- Kekuatan: Berpotensi mencapai kategori moderat hingga kuat
- Puncak dampak: Diprediksi terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026
Dampak Secara Global
Di tingkat internasional, El Niño membawa dua dampak berkebalikan:
Wilayah yang Lebih Kering & Panas:
- Asia Tenggara, Australia, sebagian Afrika Selatan, dan Amerika Selatan bagian utara
- Risiko: Kekeringan, gagal panen, kebakaran hutan, dan krisis air bersih
Wilayah yang Lebih Basah & Banjir:
- Amerika Serikat bagian selatan, pesisir Amerika Selatan, dan sebagian wilayah Eropa
- Risiko: Banjir bandang, tanah longsor, dan kerusakan infrastruktur
Dampak Langsung bagi Indonesia
Sebagai negara tropis, Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan ini. Berikut risiko yang diperkirakan terjadi:
1. Musim Kemarau Lebih Awal & Panjang: Curah hujan berkurang signifikan mulai Juli, menguat hingga Oktober
2. Risiko Kekeringan: Sekitar 60% wilayah berpotensi mengalami kekeringan ringan hingga berat, terutama di Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, Gangguan Pertanian & Pangan: Penurunan produksi padi, jagung, dan kelapa sawit; bisa menekan stok dan memengaruhi harga komoditas
3. Peningkatan Karhutla: Risiko kebakaran hutan dan lahan meningkat, terutama di daerah gambut
4. Ketersediaan Air: Berkurangnya debit sungai dan waduk, berpotensi mengganggu pasokan air bersih dan pembangkit listrik tenaga air

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.