JAKARTA — Latihan navigasi bersama Cina di dekat Taiwan membuka pertanyaan tajam: apakah prinsip Bebas Aktif Indonesia masih relevan, atau sudah tergoyahkan oleh kepentingan besar negara-negara adidaya?
Prinsip Bebas Aktif, yang ditetapkan sejak era Soekarno, dirancang agar Indonesia tidak berpihak mutlak kepada blok manapun dalam Perang Dingin. Namun, dinamika geopolitik kawasan Asia Pasifik kini jauh lebih rumit. Kehadiran Cina yang semakin asertif, komitmen Amerika Serikat untuk “pivot to Asia”, dan ketegangan di Selat Taiwan menciptakan dilema bagi Jakarta.
Latihan navigasi Indonesia dengan Cina di perairan dekat Taiwan menunjukkan nuansa yang kompleks. Di satu sisi, Indonesia berusaha mempertahankan hubungan baik dengan Beijing sebagai mitra ekonomi besar dan tetangga strategis. Di sisi lain, langkah tersebut bisa dipersepsikan sebagai kompromi terhadap kepentingan Barat, khususnya Amerika dan sekutunya yang khawatir ekspansi Cina.
Benturan Kepentingan Ekonomi dan Keamanan
Investasi Cina di Indonesia mencapai miliaran dolar, terutama di sektor infrastruktur, energi, dan manufaktur. Bagi pemerintah Jakarta, menjaga hubungan harmonis dengan Cina bukan sekadar pilihan diplomatik, tetapi kebutuhan ekonomi mendesak. Namun, kepentingan ini sering bertabrakan dengan prinsip Bebas Aktif yang seharusnya membuat Indonesia tetap independen dalam pengambilan keputusan.
Pertanyaan fundamental muncul: apakah keterlibatan Indonesia dalam operasi militer di dekat Taiwan mencerminkan pilihan strategis yang matang, atau terpaksa mengikuti agenda kekuatan besar? Jika Bebas Aktif bermakna kemerdekaan, maka bergabung dalam latihan militer yang sensitif geopolitiknya perlu justifikasi yang transparan kepada publik Indonesia.
Tekanan dari Aliansi Barat
Amerika Serikat dan sekutu NATO terus mendorong negara Indo-Pasifik untuk “memilih pihak” dalam rivalitas dengan Cina. Kelompok Quad (Amerika, Jepang, India, Australia) dan AUKUS (Amerika, Britania, Australia) menciptakan jaringan keamanan yang mengecil, membuat negara seperti Indonesia merasa tertekan untuk berkomitmen.
Indonesia, sebagai anggota ASEAN dengan ekonomi terbesar, memiliki bobot geopolitik yang sangat dipertahankan kedua belah pihak. Namun, tekanan ini mengancam fondamen Bebas Aktif. Jika Indonesia terus diposisikan sebagai “pilihan” dalam konflik Amerika-Cina, maka esensi kebijakan luar negeri independen itu akan terkikis.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.