Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Mau Dikenakan Pajak Rp144 T, Taipan Ini Kasih Respons Tak Terduga

Mau Dikenakan Pajak Rp144 T, Taipan Ini Kasih Respons Tak Terduga
Foto: Tara Winstead/Pexels

JAKARTA — Pendiri sekaligus CEO Nvidia, Jensen Huang, memberi respons yang tak biasa saat ditanya soal rencana pajak kekayaan di California, Amerika Serikat, yang bisa membuat dirinya menanggung beban pajak hampir US$8 miliar atau sekitar Rp144 triliun. Dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Huang mengatakan ia tidak mempermasalahkan rencana itu jika benar diberlakukan.

Pernyataan Huang penting karena kebijakan ini menyasar para miliarder dengan kekayaan di atas US$1,1 miliar dan berpotensi memukul deretan nama besar di Silicon Valley. Di saat banyak pengusaha teknologi mengeluh dan mengkhawatirkan kewajiban pajak itu bakal memaksa mereka menjual saham, Huang justru memilih nada tenang.

Hitungan pajak kekayaan yang bisa menyentuh Rp144 triliun

Usulan yang dibahas di California itu mengatur pajak kekayaan satu kali sebesar 5% bagi individu superkaya. Jika kebijakan tersebut lolos, sekitar 200 orang terkaya di California akan masuk daftar wajib pajak. Nilai penerimaan yang dibidik tidak kecil, yakni sekitar US$100 miliar.

Mengutip CNBC, per 6 Januari 2026, kekayaan Huang diperkirakan mencapai sekitar US$155 miliar. Dengan komposisi aset seperti itu, beban yang harus ia bayar bisa mencapai sekitar US$7,75 miliar atau setara Rp129,42 triliun dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS. Dalam pemberitaan lain, estimasi pajak itu bahkan disebut mendekati US$8 miliar atau sekitar Rp144 triliun.

Angka itu langsung membuat proposal pajak kekayaan California jadi bahan perdebatan. Soalnya, skema ini tidak cuma menyasar pendapatan, melainkan aset bernilai ekonomi seperti saham dan kepemilikan bisnis. Bagi orang seperti Huang, yang sebagian besar hartanya masih terikat pada saham Nvidia, aturan semacam ini jelas punya konsekuensi besar.

Jensen Huang santai, tokoh teknologi lain justru waswas

Huang menegaskan dirinya tidak keberatan dengan pajak yang ingin diterapkan pemerintah negara bagian. “Saya bahkan tidak pernah memikirkannya,” ujar Huang dalam wawancara itu. Ia juga menambahkan, “Kami memilih tinggal di Silicon Valley, dan berapa pun pajak yang ingin diterapkan, tidak masalah bagi saya.”

Sikap itu terdengar kontras dengan sebagian pengusaha teknologi lain. Palmer Luckey, pendiri Anduril Industries, menilai proposal tersebut bisa membuat para pendiri perusahaan terpaksa mencari dana tunai dalam jumlah besar untuk memenuhi kewajiban pajak. Ia menyebut dirinya dan rekan-rekan pendirinya harus mencari “uang tunai miliaran dolar” jika aturan ini berjalan.

Vinod Khosla, salah satu pendiri Sun Microsystems, juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Menurut dia, pajak kekayaan berpotensi mendorong para miliarder hengkang dari California sebelum aturan berlaku penuh. Kekhawatiran soal eksodus orang kaya ini memang bukan isu baru dalam debat pajak di AS.

Kenapa California ingin menarik pajak dari miliarder

Usulan pajak itu diajukan pada November 2025 oleh serikat pekerja sektor kesehatan dan didukung sejumlah legislator progresif Amerika Serikat, termasuk anggota DPR Ro Khanna dan Senator Bernie Sanders. Tujuannya jelas: menutup defisit anggaran kesehatan California yang membengkak setelah pemangkasan belanja pemerintah federal.

Dana yang terkumpul juga direncanakan untuk menopang pendidikan publik dan program bantuan pangan. Dengan kata lain, kebijakan ini bukan sekadar soal memungut uang dari orang superkaya, tapi juga cara pemerintah negara bagian menambal kebutuhan layanan publik yang besar.

Itu sebabnya diskusi soal pajak kekayaan ini jadi sensitif. Satu sisi menyentuh rasa keadilan fiskal, sisi lain memicu kekhawatiran soal iklim investasi.

Agar bisa masuk surat suara pemungutan November 2026, proposal ini harus mengumpulkan lebih dari 870.000 tanda tangan. Artinya, jalan politiknya masih panjang. Setelah itu, warga California yang akan memutuskan apakah pajak kekayaan tersebut benar-benar diterapkan atau tidak.

Efeknya bukan cuma ke Huang

Jika disetujui, para miliarder yang tinggal di California akan dikenai pajak atas seluruh aset bernilai ekonomis yang dimiliki, termasuk saham dan kepemilikan bisnis, meski mereka pindah dari California setelah awal 2026. Ada pula ketentuan bahwa pembayaran pajak bisa dicicil hingga lima tahun.

Di titik ini, yang diperdebatkan bukan hanya besaran pajaknya, tapi juga efek ikutannya. Sejumlah investor khawatir pendiri perusahaan harus menjual saham untuk mencari kas. Di sisi lain, pendukung kebijakan mengutip studi yang menyebut kenaikan pajak tidak selalu memicu eksodus besar-besaran dari kalangan kaya atau pelaku usaha.

Laporan The New York Times pada 26 Desember menyebut beberapa tokoh bisnis, seperti salah satu pendiri Google Larry Page dan investor ventura Peter Thiel, disebut tengah mempertimbangkan pindah dari California sebelum akhir 2025 untuk menghindari rencana itu. Namun, hingga kini keduanya belum mengumumkan perpindahan domisili secara terbuka.

Huang sendiri punya bantalan yang sangat tebal. Sebagian besar kekayaannya datang dari sekitar 3% saham Nvidia. Perusahaan chip itu kini bernilai lebih dari US$4,6 triliun, terdorong lonjakan permintaan chip untuk teknologi kecerdasan buatan. Dan dari situlah, angka pajak Rp144 triliun tadi jadi terasa bukan sekadar teori.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda