Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Argentina vs Cape Verde: Messi Mengaku Ditendang Lawan Sepanjang Laga

Argentina vs Cape Verde
Lionel Messi memberikan pengakuan jujur namun jenaka pasca-laga dramatis Argentina kontra Cape Verde dalam babak 32 besar Piala Dunia. Credit: JournalArta

MIAMI — Lionel Messi memberikan pengakuan jujur namun jenaka pasca-laga dramatis Argentina kontra Cape Verde dalam babak 32 besar Piala Dunia. Kapten tim Tango tersebut merasa heran karena lawan yang bermain sangat keras di lapangan justru meminta bertukar jersey dan berfoto bersama setelah pertandingan usai.
Argentina berhasil memenangkan laga dengan skor tipis 3-2. Gol dicetak oleh Lionel Messi pada menit ke-12, Julian Alvarez menit ke-45, dan gol penentu dari sundulan bek tengah Cristian Romero pada menit ke-88. Cape Verde sempat mengejutkan lewat gol balasan Mendes (22′) dan Tavares (67′). Pertandingan berlangsung panas dengan total lima kartu kuning dan satu kartu merah bagi bek Cape Verde di masa injury time babak kedua.

Kontradiksi di Atas Rumput Hijau

Saat memberikan keterangan kepada TyC Sports, Messi sempat berseloroh mengenai perilaku lawan yang kontradiktif. Di satu sisi, pemain Cape Verde tidak segan melayangkan tekel keras dan menendangnya selama pertandingan berlangsung. Namun, begitu peluit panjang dibunyikan, sikap mereka berubah total menjadi penggemar berat.
“Mereka meminta jersey saya, semuanya… Padahal di lapangan, mereka menendang saya habis-habisan,” ujar Messi sambil tertawa. Situasi ini menunjukkan bagaimana sosok megabintang tersebut tetap menjadi target fisik utama bagi setiap lawan yang menghadapi Argentina. Bagi lawan, Messi bukan sekadar kapten, tapi magnet emosional yang ingin mereka “taklukkan” secara fisik sebelum akhirnya memberi penghormatan.

Anomali Taktis: Saat Juara Bertahan Kehilangan Kendali

Messi secara blak-blakan menyebut timnya kehilangan ritme setelah memimpin lebih dulu. Ia merasa Argentina sempat terjebak dalam pola permainan lawan dan gagal melakukan tekanan efektif setelah unggul. Hal ini membuat Cape Verde mampu memberikan perlawanan sengit yang membuat Argentina sempat tertekan.
“Kami tahu ini akan menjadi laga yang sangat sulit. Mereka tidak pernah kalah dari Spanyol dan Uruguay tanpa alasan. Kami sempat merasa akan mudah mengendalikan ritme setelah gol pertama, tapi justru sebaliknya terjadi. Kami kehilangan penguasaan bola dan terlalu banyak bertahan,” jelas Messi.
Secara taktis, Argentina terlihat gagap saat Cape Verde menerapkan strategi low block dengan transisi cepat. Begitu Argentina kehilangan bola di area tengah, Cape Verde langsung meluncurkan umpan lambung ke lini depan. Ini adalah alarm bahaya. Argentina yang biasanya dominan dalam build-up dari belakang, terlihat panik ketika ditekan oleh intensitas tinggi lawan yang tidak kenal lelah. Pergantian pemain di menit ke-70 yang memasukkan gelandang bertahan tambahan terbukti krusial untuk menyeimbangkan kembali penguasaan bola yang sempat goyah.

Efisiensi Bola Mati Jadi Senjata Utama

Di balik kekurangan tersebut, Messi memuji kemajuan timnya dalam memanfaatkan situasi bola mati (set-piece). Ia menilai efektivitas dalam situasi udara menjadi pembeda krusial dalam pertandingan dengan tensi tinggi seperti babak gugur ini. Argentina kini memiliki deretan pemain yang lebih cakap dalam duel udara dibandingkan periode sebelumnya.
“Kami telah mengerjakan ini (set-piece) cukup lama, baik secara ofensif maupun defensif. Di kompetisi seperti ini, itu sangat krusial. Hari ini kami berhasil memanfaatkannya dengan baik dan akan terus menjadi senjata penting bagi kami,” tambahnya.
Statistik menunjukkan bahwa dua dari tiga gol Argentina lahir dari skema sepak pojok. Ini adalah perubahan besar dari gaya permainan mereka yang biasanya mengandalkan operan pendek. Kehadiran pemain-pemain berpostur jangkung seperti Romero dan Otamendi memberikan dimensi baru bagi Argentina saat menghadapi tim yang bermain sangat rapat.

Menatap Fase Berikutnya

Keberhasilan melaju ke 16 besar memang menjadi pencapaian yang patut disyukuri. Namun, kritik tajam dari Messi ini menjadi sinyal bagi skuad asuhannya untuk segera berbenah. Jika ingin mempertahankan gelar, Argentina tidak bisa lagi membiarkan lawan menguasai lini tengah dan memaksakan gaya bermain mereka di fase krusial mendatang.
Laga berikutnya akan menjadi ujian lebih berat dengan lawan yang memiliki kualitas teknik lebih tinggi. Argentina harus memastikan bahwa mereka tidak lagi memberikan ruang bagi lawan untuk mengeksploitasi lebar lapangan. Evaluasi dari staf pelatih akan terfokus pada transisi negatif yang seringkali menjadi celah mematikan bagi pertahanan Argentina. Publik sepak bola kini menanti apakah sang juara bertahan bisa memperbaiki diri sebelum babak 16 besar dimulai. Perjalanan menuju trofi tetaplah terjal, dan kesalahan sekecil apa pun di fase gugur tidak akan memberi ruang untuk perbaikan kedua.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda