Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Pegang 24,99% Saham, GOTO Buka Suara soal PHK Massal Tokopedia

Pegang 24,99% Saham, GOTO Buka Suara soal PHK Massal Tokopedia
Foto: HerryLawford

JAKARTA — PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akhirnya angkat bicara merespons gelombang isu pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang mendera PT Tokopedia. Meski tidak lagi menjadi pengendali utama, posisi GOTO sebagai pemegang saham minoritas tetap menempatkan perusahaan dalam posisi strategis untuk mengamati dinamika internal e-commerce tersebut.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Sabtu (4/7/2026), Direktur GOTO, Simon Tak Leung Ho, menyatakan pihaknya menghormati setiap keputusan manajemen Tokopedia terkait penyesuaian organisasi. Saat ini, GOTO tercatat masih menggenggam 24,99% saham di perusahaan e-commerce tersebut.

Dampak Keuangan Terukur dan Posisi Investasi

Pasar sempat dibuat bertanya-tanya mengenai seberapa dalam efisiensi ini memukul neraca keuangan GOTO. Simon menegaskan bahwa dampak dari aksi korporasi tersebut terhadap GOTO cenderung terbatas. Hal ini disebabkan oleh metode pencatatan investasi yang digunakan perseroan dalam laporan keuangannya.
“Perseroan mencatatkan investasinya di PT Tokopedia menggunakan metode ekuitas sesuai dengan PSAK 228, yakni investasi pada entitas asosiasi dan ventura bersama,” ujar Simon dalam keterangan resminya. Dengan pola tersebut, GOTO tidak melihat adanya dampak material, baik dari sisi keuangan maupun non-keuangan, terhadap laporan laba rugi perseroan akibat kabar yang beredar di publik.
Dalam praktik akuntansi, metode ekuitas memang membatasi risiko kerugian yang harus ditanggung investor secara langsung pada laporan laba rugi induk perusahaan, kecuali jika nilai investasi tersebut mengalami penurunan nilai (impairment) yang signifikan. Bagi investor GOTO, penjelasan ini menjadi sinyal bahwa restrukturisasi di level anak usaha tidak akan mengguncang fundamental keuangan jangka pendek mereka.

Restrukturisasi di Bawah Kendali TikTok

Kabar mengenai efisiensi drastis di tubuh Tokopedia pertama kali mencuat melalui media sosial, yang menyebutkan adanya rencana pemangkasan hingga 90% karyawan. TikTok, selaku pemegang saham pengendali sebesar 75% sejak akhir 2023, memang sedang melakukan perombakan besar di dalam struktur operasional pasca-akuisisi.
Juru bicara TikTok menjelaskan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D). Penyesuaian ini diklaim bertujuan untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang yang lebih berkelanjutan bagi bisnis, termasuk bagi para kreator dan mitra penjual di platform tersebut. Integrasi teknologi antara TikTok Shop dan sistem Tokopedia menuntut efisiensi yang ketat agar tidak terjadi tumpang tindih fungsi.
“Ini bukan keputusan yang mudah. Kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan yang terdampak selama masa transisi ini,” ungkap pihak TikTok dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026). Upaya restrukturisasi ini mencerminkan ambisi pemilik baru untuk mengubah model bisnis menjadi lebih ramping, kompetitif, dan adaptif terhadap fitur belanja berbasis konten video yang menjadi kekuatan utama TikTok.

Siklus Efisiensi dan Kondisi Industri E-Commerce

Sejak akuisisi mayoritas oleh raksasa teknologi asal China tersebut, Tokopedia memang rutin melakukan langkah efisiensi. Bagi perusahaan yang telah berusia 17 tahun ini, penyesuaian jumlah tenaga kerja menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk beradaptasi dengan peta persaingan pasar yang kian sengit di Indonesia. Sektor e-commerce kini tidak lagi mengejar pertumbuhan berbasis bakar uang, melainkan efisiensi operasional untuk mencapai profitabilitas.
Berikut adalah ringkasan posisi kepemilikan saham di Tokopedia per Juli 2026:
Pemegang Saham
Porsi Kepemilikan
TikTok (ByteDance)
75,01%
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk
24,99%
Meskipun manajemen baru terus melakukan restrukturisasi, TikTok menekankan komitmennya untuk terus menyuntikkan modal dan pengembangan bagi Tokopedia. Fokus ke depan tertuju pada peningkatan layanan pengguna serta penguatan ekosistem digital yang menghubungkan pembeli dan penjual secara lebih efisien. Dukungan finansial dari pihak pengelola mayoritas menjadi jangkar utama bagi keberlangsungan operasional Tokopedia di tengah ketidakpastian pasar tenaga kerja.

Implikasi bagi Investor dan Ekosistem

Para investor kini menanti apakah langkah perampingan organisasi ini mampu membawa Tokopedia kembali ke jalur profitabilitas yang lebih stabil atau justru akan memicu perubahan model bisnis yang lebih mendasar di masa mendatang. Fokus pasar kini beralih pada kinerja kuartalan yang akan dipublikasikan oleh GOTO dan entitas terkait di akhir tahun.
Selain masalah internal perusahaan, para pelaku industri juga mengamati respons regulator terhadap konsolidasi besar ini. Transisi operasional yang melibatkan ribuan tenaga kerja tentu akan memicu perhatian dari otoritas ketenagakerjaan, terutama terkait hak-hak karyawan yang terdampak.
Langkah selanjutnya dari manajemen TikTok di Jakarta akan menjadi penentu apakah efisiensi ini benar-benar menyisakan porsi tenaga kerja yang jauh lebih kecil atau ada strategi lain yang disiapkan untuk mengamankan operasional perusahaan. Seiring dengan berjalannya waktu, efektivitas integrasi sistem ini akan teruji di pasar. Ketahanan operasional Tokopedia akan menjadi tolok ukur utama apakah langkah “potong kompas” ini tepat sasaran untuk mempertahankan pangsa pasar e-commerce di Indonesia yang tetap panas meski pertumbuhan melambat. GOTO sendiri kini lebih fokus pada diversifikasi bisnis fintech dan layanan on-demand, sembari memantau sisa investasinya dari kursi penumpang.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda