Sabtu, 4 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Rektor ITB ajak seluruh elemen pikirkan warisan ilmu untuk masa depan

Rektor ITB ajak seluruh elemen pikirkan warisan ilmu untuk masa depan
Peringatan 106 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan sekadar seremoni sejarah. Credit: JournalArta

BANDUNG — Peringatan 106 tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) di kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) bukan sekadar seremoni sejarah.

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, melontarkan tantangan reflektif bagi seluruh elemen bangsa tentang apa yang akan ditinggalkan bagi generasi mendatang di tengah kompleksitas abad ke-21.

Momentum ini menjadi titik tolak untuk melihat sejauh mana institusi pendidikan tinggi berperan sebagai episentrum perubahan nyata di tengah masyarakat.

Selama lebih dari satu abad, pendidikan teknik telah menjadi mesin penggerak kemajuan bangsa. Namun, Tatacipta menekankan bahwa masa lalu hanyalah pijakan, bukan tempat untuk berhenti.

Baginya, setiap generasi memikul tanggung jawab besar untuk menjawab pertanyaan krusial tentang kontribusi nyata yang diberikan sebelum tongkat estafet beralih.

Menilik sejarah berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920 silam, evolusi yang terjadi bukan sekadar transformasi fisik gedung, melainkan pergeseran orientasi dari sekadar melahirkan teknokrat menjadi pencetak agen perubahan yang adaptif.

Kolaborasi sebagai Fondasi Peradaban

Menghadapi tantangan global, ITB kini mulai bergeser dari pola pikir ego sektoral menuju interdependensi atau saling ketergantungan lintas disiplin ilmu. Menurut Tatacipta, kolaborasi bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan sebuah peradaban.

Dunia saat ini sudah terlalu kompleks untuk diselesaikan oleh satu bidang keilmuan saja. Persoalan seperti krisis iklim atau transformasi digital menuntut integrasi antara kecerdasan teknis, kebijakan publik, hingga pendekatan sosiologis.

Indonesia memiliki modal luar biasa besar. Keragaman hayati, kekayaan budaya, dan tantangan geografis yang unik justru menjadi laboratorium raksasa.

Inilah kunci untuk melahirkan solusi mandiri dalam berbagai isu mendesak, mulai dari ketahanan pangan, transisi energi, hingga strategi mitigasi bencana yang adaptif terhadap kondisi lokal. Kampus tidak lagi bisa berdiri di menara gading. Mereka harus menapak bumi.

Dalam lanskap pendidikan tinggi modern, sinergi antara akademisi dan industri menjadi katalisator krusial. Tanpa jembatan kolaborasi yang kokoh, riset hanya akan berakhir di rak perpustakaan. ITB menyadari ini dengan mendorong hilirisasi riset, di mana prototipe laboratorium diuji langsung di masyarakat untuk memastikan relevansi dan skalabilitas manfaatnya bagi ekonomi nasional.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda