Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Inggris Menang, Bagaimana Bellingham dkk Atasi Keangkeran Stadion Azteca?

Inggris Menang, Bagaimana Bellingham dkk Atasi Keangkeran Stadion Azteca?
Timnas Inggris menorehkan tinta emas dalam perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Credit: Foto: Mulya Has/Pexels

MEXICO CITY — Timnas Inggris menorehkan tinta emas dalam perjalanan mereka di Piala Dunia 2026. Menghadapi Meksiko di stadion paling angker di dunia, Stadion Azteca, skuad asuhan Thomas Tuchel sukses mengunci kemenangan dramatis 3-2.

Hasil ini tidak hanya memastikan tiket ke babak perempat final melawan Norwegia, tetapi juga membuktikan mentalitas baja The Three Lions di bawah tekanan atmosfer yang memekakkan telinga.

Laga ini sempat tertunda satu jam akibat badai hebat yang melanda Mexico City. Begitu wasit meniup peluit, Meksiko langsung tancap gas memanfaatkan dukungan puluhan ribu suporternya. Stadion yang berada di ketinggian lebih dari 2.100 meter di atas permukaan laut tersebut memang dikenal sebagai kuburan bagi lawan-lawan Meksiko, yang hanya menelan dua kekalahan dari 89 laga kompetitif di sana.

Magis Bellingham dan Ketangguhan Pickford

Inggris menunjukkan kematangan taktik yang luar biasa. Jude Bellingham menjadi aktor protagonis dalam kemenangan ini. Gelandang Real Madrid itu mencetak dua gol krusial hanya dalam rentang 98 detik sebelum turun minum.

Kontribusi Bellingham tak berhenti di lini depan; ia juga melakukan tekel penentu yang menggagalkan peluang emas Cesar Montes saat Inggris hanya unggul tipis, sebuah aksi yang mencegah skor imbang sebelum jeda.

Di bawah mistar gawang, Jordan Pickford membuktikan kelasnya. Kiper Everton itu tampil bak tembok raksasa dengan melakukan serangkaian penyelamatan gemilang, terutama dua kali menggagalkan ancaman Raul Jimenez. Penampilan ke-17 Pickford di Piala Dunia ini sekaligus menyamai rekor legenda Peter Shilton sebagai pemain Inggris dengan penampilan terbanyak di turnamen tersebut.

Drama Kartu Merah dan Soliditas Pertahanan

Petaka sempat menghampiri Inggris pada awal babak kedua ketika Jarell Quansah diganjar kartu merah melalui intervensi VAR. Insiden tersebut mengubah total dinamika permainan. Meksiko yang sudah agresif semakin menggila, memaksa Tuchel melakukan penyesuaian taktis. Pelatih asal Jerman itu memasukkan Dan Burn dan Djed Spence, lalu beralih ke formasi lima bek untuk merapatkan celah.

Meski Harry Kane sempat memperlebar keunggulan lewat eksekusi penalti, Meksiko terus memberikan tekanan hebat hingga laga berakhir.

Kane sendiri sempat melakukan pelanggaran yang membuahkan penalti bagi tuan rumah, yang dieksekusi dengan baik oleh Raul Jimenez untuk memperkecil ketertinggalan menjadi 3-2. Namun, ketenangan Inggris saat menghadapi 11 menit masa tambahan waktu menjadi kunci kemenangan mereka.

Kemenangan di Azteca ini bukan sekadar hasil statistik. Bagi publik Inggris, ini adalah sinyal bahwa tim mereka sudah siap menghadapi segala jenis gangguan, baik itu cuaca ekstrem, ketinggian geografis, maupun tekanan emosional stadion yang fanatik.

Dampak bagi moral skuad asuhan Tuchel sangatlah besar. Mereka telah melewati ujian terberat dalam turnamen ini dan kini menatap laga kontra Norwegia dengan kepercayaan diri tinggi.

Thomas Tuchel layak mendapatkan kredit atas keputusannya bermain lebih dalam untuk meredam kecepatan pemain Meksiko. Pendekatan pragmatis ini terbukti efektif. Meski sempat kehilangan satu pemain, kolektivitas Inggris tetap terjaga hingga akhir. Kemenangan ini pun layak dikenang sebagai salah satu performa paling heroik timnas Inggris dalam satu dekade terakhir.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda