Jean Franco, profesor ilmu politik Universitas Filipina, menjelaskan paradoks Filipina: “Politik di sini didominasi keluarga, bukan partai stabil. Kita punya koalisi, bukan platform ideologis.” Artinya, lembaga demokrasi sering menjadi medan pertaruhan pribadi, bukan prinsip.
Popularitas Tetap Kuat, Tapi Retak di Generasi Muda
Survei Maret menunjukkan 51% pemilih masih ingin Duterte jadi presiden—angka mengagumkan di tengah badai impeachment. Namun ada celah mengkhawatirkan: kepuasan bersih Duterte di kalangan 18-24 tahun jatuh 16 poin, dari +49 menjadi +33, dalam lima bulan terakhir.
Frank Araneta, mahasiswa 20 tahun dan wakil sekretaris jenderal Akbayan Youth, menangkap sentimen itu: “Kami merasa hanya ‘dekorasi’ bagi politisi yang ingin pamer demografi muda. Isu yang penting untuk kami—pendidikan, akuntabilitas, bubarkan dinasti—selalu ditinggalkan.”
Kalimatnya itu nyata. Sementara sidang berlangsung, generasi muda Indonesia dan Filipina—yang menyaksikan lewat media sosial—mulai bertanya: apakah sistem demokrasi kami benar-benar melayani keadilan, atau hanya panggung dinasti?
92 Hari yang Akan Ubah Filipina
Dino de Leon, pengacara hak asasi, melihat implikasi lebih luas: “Terlepas dari vonis, ini uji kekuatan dinasti Duterte.” Jika Duterte divonis, dia hilang 2028. Jika dibebaskan, Marcos Jr. terlihat lemah—merusak strategi 2028-nya sendiri.
Netizen Filipina menjuluki saga ini “#SenateFlix,” merancau dengan adegan dramatis: seorang senator dan bekas kepala polisi Ronald dela Rosa kabur dari surat perintah ICC. Persidangan menjadi hiburan dan tragedi sekaligus.
Bagi banyak Filipino, khususnya muda, 92 hari ini bukan hanya tentang Sara Duterte. Ini tentang apakah demokrasi mereka sungguh ada, atau hanya panggung tipuan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.