Rabu, 8 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Rupiah Jebol Lagi ke Rp18 Ribu Siang Ini

Rupiah Jebol Lagi ke Rp18 Ribu Siang Ini
Foto: Ahsanjaya/Pexels

JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan kinerja negatif pada perdagangan tengah hari ini. Mata uang Garuda harus mengakui keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) setelah posisinya terperosok ke level Rp18.011 per dolar AS.

Data pasar menunjukkan pelemahan rupiah mencapai 0,17 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Tekanan jual yang masih membayangi pasar keuangan domestik membuat ruang gerak mata uang lokal semakin sempit di hadapan mata uang Negeri Paman Sam.

Dinamika Tekanan Global dan Domestik

Pelemahan ini bukan terjadi dalam ruang hampa. Sentimen global yang dipicu oleh kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, masih menjadi motor penggerak utama penguatan dolar secara luas. Investor cenderung menahan aset berisiko di pasar negara berkembang dan beralih menuju aset aman atau safe haven.

Selain faktor eksternal, kebutuhan valuta asing untuk repatriasi dividen perusahaan multinasional yang masuk dalam periode musiman juga menambah beban pada permintaan dolar di pasar domestik. Kondisi ini memicu ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang memperburuk depresiasi rupiah.

Bagi pelaku usaha, angka Rp18.000 per dolar AS bukan sekadar angka psikologis. Ini adalah batas yang menguji ketahanan margin operasional, terutama bagi sektor industri yang sangat bergantung pada komponen impor. Biaya bahan baku yang membengkak dalam waktu singkat memaksa banyak perusahaan melakukan penyesuaian strategi arus kas secara mendadak.

Dampak Nyata ke Konsumen

Lantas, apa dampaknya bagi masyarakat umum? Secara makro, pelemahan nilai tukar yang tajam biasanya berimplikasi pada kenaikan harga barang konsumsi impor. Jika tren ini berlanjut dalam waktu lama, transmisi harga ke tingkat konsumen akan terasa melalui lonjakan harga barang elektronik, bahan pangan tertentu, hingga biaya logistik yang komponen bahan bakarnya menggunakan standar dolar.

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter tidak tinggal diam. Intervensi di pasar valas melalui mekanisme pasar menjadi instrumen utama untuk meredam volatilitas yang terlalu tajam. Langkah ini ditempuh untuk menjaga agar pelemahan tidak berlanjut menjadi kepanikan pasar yang lebih luas.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda