Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

IPO BEI Berlanjut, JELI Melantai dan 6 Emiten Menyusul

Suasana pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk di Bursa Efek Indonesia dihadiri Menko Perekonomian
Ilustrasi suasana pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk di Bursa Efek Indonesia dihadiri Menko Perekonomian

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – IPO BEI kembali berlanjut lewat pencatatan perdana saham PT Niramas Utama Tbk dengan kode JELI di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut langkah itu sebagai sinyal kepercayaan dunia usaha yang masih terjaga.

Masuknya JELI ke lantai bursa juga memberi pesan lain: pasar modal masih dipakai perusahaan untuk mencari pembiayaan jangka panjang, bukan sekadar alternatif sesaat. Pemerintah menaruh harapan besar pada jalur ini karena dana yang dihimpun lewat IPO bisa dipakai untuk ekspansi, menambah kapasitas produksi, dan membuka lapangan kerja.

IPO BEI Jadi Penanda Minat Pasar Masih Ada

Airlangga menyinggung pencatatan JELI sebagai IPO kedua pada 2026. Dalam acara pembukaan perdagangan yang sama, ia menekankan bahwa proses itu menjadi pencatatan perdana bagi direksi Bursa Efek Indonesia yang baru.

“Selamat dan pecah telur bagi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia yang baru, ini IPO pertama kali sejak menjabat,” ujar Airlangga di Jakarta.

Ucapan itu bukan sekadar basa-basi. Pemerintah membaca aktivitas IPO sebagai indikator sederhana namun penting: bila perusahaan masih berani masuk bursa, berarti ada keyakinan atas prospek bisnis dan kondisi pasar ke depan.

Di sisi lain, bagi investor ritel, derasnya emiten baru berarti pilihan saham bertambah. Tapi risikonya juga tetap sama besar. Investor perlu melihat fundamental emiten, rencana penggunaan dana, dan prospek industrinya sebelum ikut masuk.

Kenapa IPO BEI Masih Dipacu Pemerintah

Momentum ini datang saat ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen. Pemerintah menyebut pertumbuhan itu ditopang konsumsi domestik yang stabil, investasi yang naik, serta reformasi kebijakan yang terus diperkuat.

Salah satu sektor yang ikut mendorongnya adalah industri makanan dan minuman. Kontribusinya terhadap PDB naik menjadi 7,31 persen dari 7,20 persen pada periode yang sama tahun lalu. Sektor ini juga tumbuh 7,04 persen, terdorong lonjakan permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional.

Angka investasi di sektor tersebut ikut menguat. Realisasi Penanaman Modal Asing pada triwulan I 2026 tercatat Rp10,48 triliun, sementara Penanaman Modal Dalam Negeri mencapai Rp16,34 triliun. Bagi pelaku usaha, data ini menunjukkan pasar domestik masih menarik dan konsumsi belum kehilangan tenaga.

Kepercayaan eksternal pun masih ada. Lembaga indeks global MSCI kembali mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market pada evaluasi Juni 2026. Pemerintah menilai keputusan itu memperlihatkan fundamental ekonomi nasional masih solid di mata investor global.

Dampaknya ke Emiten, Investor, dan Pekerja

So what? Bagi masyarakat, lanjutan IPO BEI berarti akses pendanaan perusahaan tidak bertumpu pada kredit perbankan saja. Saat perusahaan mendapat modal dari pasar, mereka punya ruang lebih besar untuk memperluas usaha, membeli mesin, membuka cabang, atau menambah tenaga kerja.

Untuk investor, gelombang IPO memberi kesempatan mencari saham baru sejak awal pencatatan. Namun harga saham perdana sering bergerak liar. Nama besar tidak otomatis berarti kinerja bagus. Di titik ini, prospektus dan laporan keuangan tetap jadi bacaan wajib.

Untuk industri, terutama sektor konsumsi, keberadaan emiten baru bisa memperlebar kompetisi. Perusahaan yang lebih efisien dan transparan biasanya lebih mudah menarik minat pasar. Itu sebabnya pemerintah menekankan reformasi pasar modal harus berjalan beriringan dengan perlindungan investor dan keterbukaan informasi.

Enam Emiten Menunggu Giliran

Airlangga menyebut masih ada enam emiten lain yang segera mencatatkan saham perdana di bursa. Pernyataan itu memberi gambaran bahwa pipeline IPO belum habis, setidaknya dalam waktu dekat.

Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, dan BEI juga disebut akan terus memperkuat transparansi, tata kelola perusahaan, dan perlindungan investor. Tiga hal ini krusial. Tanpa itu, pasar modal sulit diperdalam dan kepercayaan bisa cepat pudar.

Turut hadir dalam acara tersebut Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin, Komisaris Utama PT Niramas Utama Tbk Sadikun Wiratno, Komisaris Independen Rycko Amelza Dahniel, Direktur Utama Ham Japyusuf Hamdani, serta jajaran direksi dan manajemen perusahaan.

“Kami ingin pasar modal menjadi sumber pembiayaan jangka panjang yang lebih kuat,” ujar Airlangga.

“Kalau kepercayaan terus terjaga, IPO seperti ini akan memberi manfaat nyata bagi perusahaan dan perekonomian,” imbuhnya.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda