Kamis, 9 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Transisi Kolombia Disetop usai Tuduhan Kudeta Petro

Transisi Kolombia disetop setelah tuduhan kudeta Petro
Transisi Kolombia memanas setelah presiden terpilih Abelardo de la Espriella menghentikan proses serah terima dan menuding Gustavo Petro hendak bertahan di kursi kekuasaan. (Ilustrasi: AI)

BOGOTA — Transisi Kolombia resmi dihentikan setelah presiden terpilih Abelardo de la Espriella menuding Presiden Gustavo Petro berupaya bertahan di kekuasaan lewat skema kudeta. Keputusan itu diambil pada Selasa, hanya beberapa pekan sebelum pelantikan yang dijadwalkan pada 7 Agustus.

Langkah ini membuat proses serah terima jabatan di Kolombia berubah jadi konflik terbuka antara pemerintahan lama dan kubu pemenang pemilu. Bagi publik Kolombia, situasinya bukan sekadar adu kata. Ini menyentuh legitimasi hasil pemilu, stabilitas politik, dan kesiapan negara masuk ke pemerintahan baru.

Petro menolak akui hasil, kubu terpilih membalas

Masalah memuncak ketika Petro pada Senin menyatakan dirinya tidak mengakui kemenangan de la Espriella atas kandidat koalisi Petro, Senator Ivan Cepeda, dalam putaran kedua pemilihan presiden pada 21 Juni. Petro menuduh ada kecurangan, tetapi tidak menyodorkan bukti terbuka atas klaim itu.

Sehari kemudian, de la Espriella yang beraliran konservatif dan didukung Donald Trump merespons lewat video di media sosial. Ia menuduh Petro dan Cepeda menjalankan rencana untuk “bertahan dengan segala cara” melalui “kudeta”, karena menolak mengakui hasil kemenangan lawannya. Tuduhan itu juga tidak disertai bukti.

“Sebagai presiden terpilih, saya menyerukan angkatan bersenjata Kolombia untuk menghormati sumpah mereka melindungi konstitusi dan demokrasi, serta tidak mematuhi perintah Petro yang bertentangan,” kata de la Espriella. Ia juga meminta komunitas internasional memantau perpindahan kekuasaan.

Kalimat itu keras. Sangat keras. Dan langsung menaikkan tensi politik di Bogotá.

Apa arti penghentian transisi Kolombia

Di Kolombia, proses transisi atau empalme adalah tahap formal ketika pemerintahan keluar menyerahkan informasi, data, dan dokumen yang dibutuhkan presiden terpilih untuk menyiapkan pemerintahan baru. Proses ini biasanya jadi jembatan agar mesin negara tetap berjalan mulus. Kali ini, jembatan itu retak sebelum benar-benar dipakai.

Menurut ABC News, Menteri Keuangan Kolombia Germán Ávila, yang juga menjadi koordinator transisi dari pihak Petro, sudah memerintahkan timnya menangguhkan proses serah terima setelah pernyataan dari kubu de la Espriella. Ia membantah ada yang disembunyikan dan menegaskan bahwa transisi bukan ruang untuk penyelidikan kriminal atau pengadilan politik.

Kondisi ini penting karena transisi pemerintahan menyangkut data fiskal, program prioritas, dan kesiapan kementerian-kementerian untuk berganti arah. Jika proses itu tersendat, pemerintahan baru berisiko memulai masa kerja dengan informasi yang terpotong, koordinasi yang lemah, dan ketidakpercayaan sejak hari pertama.

Dampaknya ke warga dan pasar politik

So what? Bagi warga Kolombia, pertarungan ini bisa berujung pada kebijakan publik yang tersendat. Saat pemerintah lama dan tim presiden terpilih saling menuduh, fokus pejabat bisa bergeser dari layanan publik ke perang narasi. Pasar juga membaca situasi seperti ini dengan waspada, terutama jika konflik merembet ke kebijakan fiskal, keamanan, dan hubungan dengan militer.

De la Espriella meminta pendukungnya untuk “melawan” sampai pelantikan pada 7 Agustus. Sementara itu, Petro belum memberi tanggapan langsung atas tuduhan kudeta yang diarahkan kepadanya. Ketika dua kubu sama-sama bicara soal legitimasi, ruang kompromi makin sempit.

The Straits Times melaporkan bahwa Petro juga sempat mengirim sinyal politik yang tidak biasa dengan menyerukan mobilisasi massa dan menyampaikan pidato perpisahan publik pada 20 Juli, bertepatan dengan hari nasional Kolombia.

Ia ingin perayaan itu menjadi panggung bagi agenda reformasi sosial yang selama ini ia dorong. Jadwal itu berdekatan dengan masa transisi yang sudah panas, sehingga suhu politik diperkirakan belum akan turun cepat.

Bagi de la Espriella, tantangannya bukan hanya menang pemilu, tetapi juga mengamankan legitimasi pemerintahan barunya. Bagi Petro, tuduhan tanpa bukti bisa dibaca sebagai cara mempertahankan pengaruh politik sampai menit terakhir.

Dan bagi lembaga negara, terutama angkatan bersenjata dan birokrasi sipil, pesan yang muncul sangat jelas: jaga netralitas. Satu keputusan, dua kubu, dan satu kalender yang terus berjalan menuju 7 Agustus.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda