JAKARTA — Pertanyaan tentang kapan Lionel Messi akan gantung sepatu kini tidak lagi sekadar soal usia, melainkan tentang daya tahan fisik sang megabintang. Penampilan impresifnya di Piala Dunia 2026 kembali membuktikan bahwa La Pulga belum benar-benar “habis”, meski usianya kini telah menginjak 39 tahun.
Kemenangan dramatis Argentina atas Mesir di Atlanta Stadium pada Selasa (7/7/2026) menjadi bukti nyata bahwa Messi masih memiliki kapasitas untuk menjadi pembeda di level tertinggi. Keberhasilan membawa timnya menembus babak perempat final menegaskan bahwa ia bukan sekadar pelengkap, melainkan motor penggerak utama permainan Argentina.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Ambisi Bermain Selama Mungkin
Saat banyak pemain seusianya mulai mempertimbangkan masa pensiun atau beralih ke liga yang kurang kompetitif, Messi justru menunjukkan komitmen berbeda. Kepada awak media seperti dilansir ANI, ia menegaskan bahwa motivasinya bermain bola belum surut. Ia memilih untuk tidak terbebani oleh target jangka panjang seperti Piala Dunia 2030.
“Saya menjalani hidup sehari-hari dan fokus pada masa kini,” ujar Messi. Ia menambahkan bahwa selama dirinya masih merasa bugar secara fisik dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi rekan setimnya, tidak ada alasan untuk berhenti. Bagi Messi, sepak bola bukan sekadar karier, melainkan gairah yang ia jaga dengan disiplin tinggi.
Sains di Balik Usia 43 Tahun
Piala Dunia 2030 akan menempatkan Messi di usia 43 tahun. Angka ini memang tergolong sangat tua untuk pemain lapangan di level elite, meskipun bukan hal yang mustahil. Sebagai perbandingan, di ajang tahun ini, kiper Skotlandia, Craig Gordon, tampil di usia 43 tahun 162 hari. Namun, bagi pemain outfield seperti Messi, tuntutan fisik tentu jauh lebih berat.
Dokter spesialis kedokteran olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, menyebut bahwa penurunan kebugaran pada atlet veteran adalah sebuah keniscayaan. “Messi itu punya bakat luar biasa, levelnya sudah tinggi sekali. Pasti akan ada penurunan, itu hukum alam kebugaran atlet,” jelasnya saat dihubungi detikcom, Kamis (9/7/2026).
Meski begitu, dr. Andhika tidak menutup peluang tersebut sepenuhnya. Menurutnya, “Kalau memang dia berhasil menjaga gaya hidup, pola makan, kualitas tidur, dan porsi latihannya, meskipun tidak segacor saat ini, rasanya Messi masih sangat layak untuk berada di level internasional.”
Dampak Bagi Ekosistem Sepak Bola
Bagi industri olahraga global, kemungkinan Messi tampil di edisi 2030 bukan hanya soal statistik, melainkan tentang warisan nilai dan inspirasi. Kehadirannya akan menjadi magnet komersial sekaligus standar emas disiplin atlet profesional.
Jika ini terjadi, Messi akan mencetak sejarah baru sebagai pemain lapangan tertua yang mampu bersaing di panggung sepak bola paling bergengsi sejagat, sekaligus mengubah paradigma bagaimana seorang atlet mengelola karier di pengujung usia emasnya.
Terlepas dari segala prediksi, dunia kini hanya bisa menunggu apakah “sihir” Messi sanggup melampaui batas biologis yang menantangnya. Pada akhirnya, performa di lapangan hijau akan menjadi hakim paling adil bagi ambisi sang legenda.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.