Sabtu, 11 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Piala Dunia 2026: 40 Tahun Sulit Menang atas Spanyol, Belgia Siap Putus Kutukan

Jersey timnas Belgia dan Spanyol di lapangan stadion Piala Dunia 2026
Belgia menghadapi tantangan berat melawan Spanyol dalam babak perempat final Piala Dunia 2026 di Stadion Los Angeles. (Ilustrasi: AI)

INGLEWOOD — Stadion Los Angeles akan menjadi panggung krusial bagi Belgia dalam upaya mereka menulis ulang sejarah. Menghadapi Spanyol di babak perempat final Piala Dunia 2026 pada Sabtu (11/7/2026) dini hari WIB, Red Devils memikul beban berat berupa rekor buruk yang telah bertahan selama empat dekade.

Secara statistik, Spanyol memang lebih diunggulkan. Dalam delapan pertemuan terakhir di berbagai ajang, Belgia hanya mampu mencuri satu hasil imbang dan menelan tujuh kekalahan menyakitkan.

Kemenangan terakhir mereka atas La Furia Roja bahkan terjadi jauh di masa lalu, yakni saat perempat final Piala Dunia 1986. Sejak saat itu, Spanyol seolah menjadi tembok yang mustahil ditembus oleh generasi-generasi pesepak bola Belgia.

Mentalitas Rudi Garcia

Pelatih Belgia, Rudi Garcia, sadar betul timnya dianggap sebagai pihak yang akan tersingkir lebih cepat. Namun, ia menolak untuk sekadar bertahan atau memarkir bus di depan gawang demi menghindar dari kekalahan telak. Garcia justru ingin anak asuhnya tampil lepas dan menantang status quo yang selama ini melekat.

“Banyak pihak sudah menganggap perjalanan kami berakhir di sini. Kami justru percaya mampu melewati tantangan ini. Keyakinan kami adalah mengalahkan Spanyol, dan kami akan mengerahkan segala kemampuan di lapangan,” tegas Garcia saat sesi konferensi pers jelang laga.

Ancaman Lamine Yamal

Di kubu lawan, Spanyol tidak datang tanpa persiapan. Pelatih mereka bahkan secara terbuka menyebut kehadiran pemain muda berbakat seperti Lamine Yamal akan memberikan tekanan konstan bagi pertahanan Belgia. Gaya main Spanyol yang mengandalkan penguasaan bola dan transisi cepat menjadi ancaman serius bagi skema pertahanan yang akan diusung Garcia.

Bagi publik sepak bola, laga ini bukan hanya sekadar perebutan tiket semifinal. Hasil akhir di Inglewood akan memberikan dampak psikologis besar bagi kedua negara. Kemenangan akan mengangkat moral Belgia ke level tertinggi, sementara kekalahan bagi Spanyol akan menjadi noda bagi status mereka sebagai salah satu kandidat juara terkuat tahun ini.

Konteks Turnamen di Balik Lapangan

Gelaran Piala Dunia 2026 kali ini memang penuh dengan intrik, tidak hanya di atas rumput hijau. Di luar lapangan, tensi politik juga merembes ke sepak bola.

Laporan dari berbagai media internasional menyoroti bagaimana Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, bahkan sudah memberikan isyarat adanya libur nasional jika timnya sukses melaju hingga juara.

Bahkan, keterlibatan tokoh politik dalam intervensi jadwal pertandingan sempat menuai kecaman dari pihak Gedung Putih, menambah dimensi drama di tengah panasnya persaingan perempat final.

Tentu saja, bagi skuad asuhan Rudi Garcia, kebisingan di luar lapangan tidaklah penting. Fokus utama mereka tetap satu: memutus rantai kutukan empat puluh tahun melawan Spanyol. Jika mereka berhasil melakukan itu, status non-unggulan yang mereka pikul akan hilang seketika, dan dunia akan melihat lahirnya kekuatan baru di semifinal.

Pertandingan ini akan menunjukkan apakah taktik yang disiapkan Garcia mampu membendung kolektivitas Spanyol atau justru tradisi kemenangan La Furia Roja yang akan berlanjut. Hasil akhir tentu tetap menjadi milik mereka yang mampu mengonversi peluang menjadi gol di 90 menit laga, namun ambisi Belgia kali ini terasa lebih nyata daripada sekadar harapan.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda