Minggu, 12 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Harga minyak berpotensi naik lagi gara-gara Selat Hormuz

Harga minyak berpotensi naik lagi gara-gara Selat Hormuz
Foto: Venti Views/Unsplash

JAKARTA — Harga minyak yang sempat jatuh di bawah US$70 per barel pada awal pekan ini bisa berbalik naik lagi dalam beberapa bulan ke depan. Pasar energi mungkin merasa perang Iran sudah mereda, tapi arus di Selat Hormuz belum kembali normal, stok minyak dunia terkikis, dan China belum pulih sebagai pembeli besar.

Akibatnya, lonjakan harga baru masih mengintai. Bagi Amerika Serikat, situasi ini juga sensitif karena Presiden Donald Trump ingin menahan harga bahan bakar tetap rendah menjelang pemilu sela November, sementara ketegangan di jalur sempit yang dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak dunia belum benar-benar beres.

Selat Hormuz belum pulih penuh

Laporan Fortune menyebut trafik kapal tanker melalui Selat Hormuz memang bergerak lagi setelah gencatan senjata interim, tetapi volumenya belum kembali ke kondisi normal. Bahkan, sepanjang pertengahan Juni hingga awal Juli, arus minyak tidak pernah pulih sampai sepertiga dari volume biasanya.

Itu penting. Soalnya, jalur ini adalah nadi pasokan energi global. Saat lalu lintas kapal tersendat, premi asuransi dan biaya pengiriman ikut melonjak. Dalam laporan yang sama, ongkos pengiriman dan asuransi tanker minyak disebut setidaknya naik dua kali lipat.

Marshall Adkins, kepala energi di Raymond James, mengatakan pasar terlalu cepat menganggap situasi sudah aman. “Ada tagihan yang harus dibayar,” ujarnya kepada Fortune. “Pasar pikir, ‘Oh ya, semuanya kembali normal.’ Tapi, setelah mengamati Iran selama ini, saya rasa itu tidak akan benar-benar terjadi.”

China belum kembali berburu minyak

Faktor lain yang menahan harga minyak tetap lemah adalah China. Negara itu sempat memangkas impor minyak dunia sekitar 5 juta barel per hari dan mengandalkan cadangan strategisnya. Artinya, produksi global mulai naik, tetapi permintaan belum mengejar.

Dan di situlah pasar bisa berbalik cepat. Dan Pickering, pendiri Pickering Energy Partners, menilai China kemungkinan mulai membeli lebih banyak minyak pada akhir Agustus, atau lebih cepat. “China tidak memangkas konsumsi secara dramatis; China memangkas impor secara dramatis,” katanya kepada Fortune. “Itu yang menurut saya belum cukup diperhatikan orang.”

Jika impor China kembali deras saat pasokan dari Timur Tengah belum pulih penuh, harga minyak berisiko melonjak lagi. Sejumlah analis yang dikutip Fortune memperkirakan harga acuan bisa mendekati US$90 per barel. Bukan skenario US$200 yang paling ekstrem, tapi tetap cukup untuk mengguncang pasar BBM dan ongkos logistik.

Dampaknya ke konsumen dan pasar energi

Buat konsumen, efeknya paling terasa di pompa bensin dan harga barang. Ketika minyak mentah naik, ongkos angkut ikut naik, lalu merembet ke harga barang konsumsi, tarif logistik, sampai biaya operasional industri yang bergantung pada energi. Di Indonesia, kondisi seperti ini biasanya ikut menekan ruang gerak pelaku usaha, terutama yang banyak memakai bahan bakar untuk distribusi.

Buat investor, pasar sedang berada di fase yang rapuh. Harga memang sempat dibaca sebagai sinyal mereda, tapi ketidakpastian soal Hormuz, suplai Iran, dan permintaan China membuat arah berikutnya mudah berbalik. Satu gangguan kecil saja bisa memicu reaksi cepat di bursa komoditas.

Trump pun ikut terjepit. Ia disebut telah mencabut lagi keringanan Iran untuk menjual minyak ke pasar dunia tanpa sanksi, sementara cadangan minyak strategis AS berada di level terendah sejak 1983, meski masih di atas 300 juta barel.

Pemerintah AS juga belum menunjukkan tanda akan buru-buru mengisi ulang cadangan itu sebelum pemilu sela, karena harga bahan bakar tetap menjadi pertimbangan politik utama.

Di titik ini, pasar masih bertaruh pada satu hal: apakah China benar-benar kembali masuk, dan apakah Selat Hormuz bisa bertahan tanpa gangguan baru. Jika tidak, harga minyak yang hari ini tampak jinak bisa berubah lagi dalam hitungan pekan. Itu yang kini dicermati pedagang energi di seluruh dunia.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda