Jika impor China kembali deras saat pasokan dari Timur Tengah belum pulih penuh, harga minyak berisiko melonjak lagi. Sejumlah analis yang dikutip Fortune memperkirakan harga acuan bisa mendekati US$90 per barel. Bukan skenario US$200 yang paling ekstrem, tapi tetap cukup untuk mengguncang pasar BBM dan ongkos logistik.
Dampaknya ke konsumen dan pasar energi
Buat konsumen, efeknya paling terasa di pompa bensin dan harga barang. Ketika minyak mentah naik, ongkos angkut ikut naik, lalu merembet ke harga barang konsumsi, tarif logistik, sampai biaya operasional industri yang bergantung pada energi. Di Indonesia, kondisi seperti ini biasanya ikut menekan ruang gerak pelaku usaha, terutama yang banyak memakai bahan bakar untuk distribusi.
Buat investor, pasar sedang berada di fase yang rapuh. Harga memang sempat dibaca sebagai sinyal mereda, tapi ketidakpastian soal Hormuz, suplai Iran, dan permintaan China membuat arah berikutnya mudah berbalik. Satu gangguan kecil saja bisa memicu reaksi cepat di bursa komoditas.
Trump pun ikut terjepit. Ia disebut telah mencabut lagi keringanan Iran untuk menjual minyak ke pasar dunia tanpa sanksi, sementara cadangan minyak strategis AS berada di level terendah sejak 1983, meski masih di atas 300 juta barel.
Pemerintah AS juga belum menunjukkan tanda akan buru-buru mengisi ulang cadangan itu sebelum pemilu sela, karena harga bahan bakar tetap menjadi pertimbangan politik utama.
Di titik ini, pasar masih bertaruh pada satu hal: apakah China benar-benar kembali masuk, dan apakah Selat Hormuz bisa bertahan tanpa gangguan baru. Jika tidak, harga minyak yang hari ini tampak jinak bisa berubah lagi dalam hitungan pekan. Itu yang kini dicermati pedagang energi di seluruh dunia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.