Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup pekan lalu dengan napas lega. Indeks menguat tipis 11,91 poin atau 0,20 persen ke level 5.924 pada Jumat (10/7). Sepanjang pekan, total kenaikan tercatat 0,83 persen.
Kabar baiknya, kapitalisasi pasar bursa juga ikut membengkak menjadi Rp10.340 triliun, naik dari posisi sebelumnya di angka Rp10.287 triliun. Aktivitas di lantai bursa pun tampak sibuk dengan rata-rata frekuensi transaksi harian yang melonjak drastis hingga 29,69 persen ke angka 1,87 juta kali.
Namun, di balik angka-angka hijau tersebut, ada ganjalan yang terasa berat. Investor asing masih terus membongkar portofolio mereka di pasar domestik. Pada Jumat lalu saja, mereka melakukan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp421,70 miliar. Jika ditarik garis lurus sepanjang tahun berjalan, total net sell asing telah menembus angka Rp76,15 triliun. Angka yang tidak kecil.
Bayang-bayang Ketegangan Global
Langkah kaki investor pekan ini dipastikan tidak akan mudah. Geopolitik global tengah memanas, terutama dengan adanya potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, memberikan catatan serius mengenai kondisi ini.
Menurutnya, isu penutupan Selat Hormuz berpotensi besar memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Efek dominonya? Bank sentral di berbagai negara diperkirakan bakal menahan kebijakan moneter ketat lebih lama demi menjinakkan inflasi yang mungkin saja kembali meradang.
Situasi makin pelik saat kita menengok ke dalam negeri. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kini menyentuh level Rp18.080 per dolar AS. Kurs yang melemah tentu membuat pelaku pasar menahan diri. Banyak yang memilih untuk mengamati daripada agresif masuk ke pasar.
Oktavianus memproyeksikan, IHSG di awal pekan akan bergerak variatif dengan kecenderungan melemah di rentang support 5.840 dan resistance 6.040.
Saham yang Menarik untuk Dilirik
Pasar memang sedang bimbang. Namun, di antara ketidakpastian itu, sejumlah emiten justru dianggap punya peluang untuk mendulang cuan.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyarankan investor untuk tidak sekadar melihat grafik, tetapi juga jeli mencermati rilis laporan keuangan kuartal II 2026. Data makroekonomi dari China pun akan menjadi penentu arah angin bagi pasar saham lokal dalam beberapa hari ke depan.
Herditya punya hitung-hitungan sendiri mengenai pergerakan indeks. Ia melihat IHSG berpotensi bergerak sideways dengan rentang support 5.742 dan resistance 6.112. Baginya, pelaku pasar harus pintar menyaring emiten mana yang masih memiliki fundamental kokoh di tengah badai kurs.
Berdasarkan analisis teknikal terkini, ada beberapa nama emiten yang masuk dalam radar pemantauan. Pada sektor energi, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang tutup di harga 2.390 punya target harga di angka 2.550.
Lalu, PT Timah Tbk (TINS) dengan harga penutupan 3.470 diproyeksikan bisa menyentuh 4.010. Tidak ketinggalan emiten pendatang seperti PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) yang bertengger di harga 1.000 dengan target 1.225.
Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih menjadi pilihan menarik. Dengan harga penutupan 4.080, saham ini dipatok di level target 4.270. Selain itu, sektor perkebunan juga masuk daftar lewat PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang menutup pekan di harga 1.540 dan diharapkan menuju level 1.700.
Keputusan akhir tetap berada di tangan masing-masing pemilik modal. Volatilitas harga komoditas dan stabilitas rupiah di pasar uang akan menjadi penentu utama apakah target-target harga tersebut bisa terwujud atau justru meleset.
Pasar modal saat ini sedang menunggu kepastian arah kebijakan moneter yang akan ditarik oleh bank sentral, yang kemungkinan besar akan menjadi penentu sentimen pasar dalam jangka pendek.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.