Sukardiasih menekankan bahwa fleksibilitas ini tidak mengurangi produktivitas aparatur sipil negara. Sebaliknya, kebijakan memberikan ruang kepada orang tua—khususnya ayah—untuk hadir pada momen krusial bagi perkembangan emosional anak. “GAMAS tidak mendorong orang tua meninggalkan pekerjaan, melainkan mengajak institusi memberikan ruang melalui pengaturan kerja yang lebih fleksibel,” jelasnya.
Konteks Budaya Lokal, Gerakan Nasional
Sementara gerakan ini berkembang di seluruh Indonesia, Bali memiliki keunikan. Nilai budaya Balinese yang menempatkan ayah sebagai pembimbing utama keluarga—bukan sekadar pencari nafkah—membuat GAMAS tidak terasa asing. Justru, gerakan ini memperkuat kembali peran tradisional yang mulai memudar di era modern.
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, melihat kehadiran ayah di hari pertama sekolah sebagai langkah membangun hubungan emosional antara orang tua, anak, dan pihak sekolah. Ini juga momentum menyelaraskan pembinaan karakter antara rumah dan sekolah—kolaborasi yang sering terputus dalam rutinitas kerja orang tua modern.
Di lapangan, respons sekolah dan keluarga positif. Banyak ayah menggunakan momen ini untuk mengenal guru dan lingkungan sekolah anak secara langsung. Kehadiran mereka, sekecil apa pun dampak langsung di hari itu, mengirimkan sinyal kuat kepada anak: ayah peduli dengan pendidikan dan perkembangan mereka. Pesan itu lebih bermakna daripada sekadar antar-jemput rutin.
“Ini adalah investasi dalam hubungan keluarga dan pembangunan karakter generasi penerus,” kata Sukardiasih, menutup pandangannya tentang GAMAS sebagai gerakan yang sejalan dengan budaya lokal sekaligus kebutuhan nasional untuk merevitalisasi peran ayah dalam pengasuhan anak di Indonesia.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.