Bagi penabung, selisih bunga ini bukan sekadar angka. Nasabah dengan dana Rp10 juta, misalnya, akan merasakan perbedaan hasil bersih yang nyata jika pindah dari deposito 4% ke 5,25%. Kalau nominalnya lebih besar, dampaknya makin terasa. Ini yang membuat pembanding bunga deposito tetap relevan setiap kali bank mengubah suku bunga.
Di level industri, bank digital terus menekan bank besar lewat bunga lebih tinggi dan setoran awal rendah. Pola ini menunjukkan perebutan dana ritel masih panas. Bank konvensional punya basis nasabah besar dan jaringan cabang, tapi bank digital unggul di akses cepat dan proses buka deposito yang serba aplikasi.
| Aspek | Bank Konvensional | Bank Digital |
|---|---|---|
| Rentang bunga tenor 12 bulan | 4,00% – 4,25% | 5,00% – 5,25% |
| Setoran awal | Rp1 juta – Rp2 juta | Rp100 ribu – Rp1 juta |
| Akses pencairan | Cabang, ATM, kanal bank | Aplikasi 24 jam |
| Status keamanan | Dijamin LPS | Dijamin LPS |
Contoh hasil deposito Rp10 juta
Jika nasabah menempatkan Rp10 juta di SeaBank dengan bunga 5,25% per tahun, bunga kotor yang terbentuk mencapai Rp525 ribu. Setelah dipotong pajak 10%, hasil bersihnya sekitar Rp472.500 setahun.
Angka itu belum termasuk kemungkinan perubahan bunga di tengah jalan, karena bank bisa menyesuaikan suku bunga sewaktu-waktu. Karena itu, pengecekan di situs resmi atau aplikasi bank tetap perlu dilakukan sebelum dana diparkir.
Untuk dana yang dikejar stabil dan tidak ingin ikut gejolak pasar, deposito masih masuk akal. Tapi pilihan bank dan tenor menentukan hasil akhir. Dalam daftar Juli 2026 ini, bank digital jelas memegang posisi teratas untuk tenor panjang.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.