Rabu, 15 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Daftar Terbaru 48 Saham Konsentrasi Tinggi HSC, Kepemilikan 99,9%

Daftar Terbaru 48 Saham Konsentrasi Tinggi HSC, Kepemilikan 99,9%
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) memperluas pengawasan terhadap emiten dengan tingkat kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Berdasarkan evaluasi per 30 Juni 2026, kini terdapat 48 saham yang masuk dalam daftar tersebut, melonjak signifikan dari posisi awal April yang hanya berjumlah 10 emiten.

Transparansi menjadi fokus utama otoritas bursa. Langkah ini bertujuan memberikan peringatan dini kepada pelaku pasar mengenai saham-saham yang sebagian besar porsinya dikuasai oleh segelintir pihak atau kelompok terafiliasi. Seiring dengan pembaruan daftar ini, status emiten PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) resmi dicabut dari daftar HSC per 29 Juni 2026.

Metodologi Baru dengan Price Impact Ratio

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa Bursa terus menyempurnakan metode pendeteksian untuk menjaga integritas pasar. Terkini, BEI menambahkan kriteria price impact ratio khusus bagi saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun. Indonesia tercatat menjadi salah satu dari dua negara, bersama Hong Kong, yang menerapkan standar deteksi ini.

Metode ini bekerja dengan mengukur perubahan harga saham terhadap velocity atau kecepatan perputaran transaksi. Saham yang memiliki volume transaksi rendah namun mengalami fluktuasi harga tajam akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Evaluasi menggunakan kriteria baru ini dijadwalkan berlangsung setiap tiga bulan sekali, selaras dengan siklus evaluasi indeks utama di bursa.

Dominasi Kepemilikan pada Emiten Tertentu

Data terbaru mengungkap konsentrasi kepemilikan yang sangat ekstrem pada sejumlah perusahaan. PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mencatatkan tingkat konsentrasi kepemilikan tertinggi di angka 99,99%.

Menyusul di belakangnya adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan 99,96%, serta PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang masing-masing berada di level 99,95%. PT Golden Flower Tbk (POLU) melengkapi jajaran atas dengan tingkat konsentrasi 99,94%.

Kondisi pasar dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi menyimpan risiko tersendiri bagi investor ritel. Karena jumlah saham yang beredar di publik sangat terbatas, likuiditas menjadi sangat rentan. Transaksi dalam skala kecil saja sudah mampu mendorong harga naik atau turun drastis, sehingga harga pasar sering kali tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sebenarnya.

Investor yang memegang saham dalam kategori ini sering kali menemui kendala saat hendak melakukan aksi jual di tengah gejolak pasar karena minimnya pembeli.

Selain itu, kendali penuh yang dipegang oleh pemegang saham utama memberikan mereka otoritas mutlak dalam menentukan arah kebijakan strategis hingga besaran dividen perusahaan.

Upaya publikasi daftar 48 saham ini menjadi langkah nyata bursa agar investor lebih berhati-hati dalam memetakan profil risiko portofolio mereka sebelum mengambil keputusan investasi lebih lanjut.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda