Rabu, 15 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI

Saham IBM Anjlok 25 Persen, Kebutuhan Infrastruktur AI Jadi Penyebab

Grafik saham IBM yang mengalami penurunan tajam di pasar modal
Pergeseran prioritas belanja modal klien ke infrastruktur AI berdampak signifikan pada pendapatan lini mainframe IBM. (Ilustrasi: AI)

Investor IBM menelan pil pahit pada Selasa lalu. Harga saham perusahaan raksasa teknologi ini rontok lebih dari 25 persen dalam sehari, sebuah pukulan telak yang membuat pelaku pasar gemetar. Penurunan tajam ini terjadi setelah manajemen melaporkan kinerja kuartal kedua yang jauh di bawah ekspektasi, sekaligus memberikan peringatan laba yang mengejutkan banyak pihak.

Kondisi di lapangan ternyata jauh lebih kompleks dari sekadar angka laporan keuangan. CEO IBM, Arvind Krishna, membongkar akar masalah melalui surat terbuka. Klien IBM ternyata melakukan manuver mendadak soal alokasi belanja modal atau capex sepanjang akhir Juni lalu. Prioritas mereka berubah drastis dalam waktu singkat.

Pergeseran Anggaran ke Arah AI

Alih-alih menyuntikkan dana ke lini produk mainframe Z yang selama ini menjadi tulang punggung pemasukan, klien justru memilih cara lain. Mereka lebih memilih menimbun stok server, perangkat penyimpanan, serta memori secara besar-besaran. Kenapa? Karena mereka panik.

Ada kekhawatiran nyata bahwa harga infrastruktur pendukung kecerdasan buatan (AI) akan melonjak tajam atau bahkan langka di masa depan.

Efek domino pun tak terelakkan. Pendapatan sektor infrastruktur IBM terjun bebas hingga 7 persen. Padahal, manajemen sempat menaruh harapan besar pada mainframe generasi terbaru mereka sebagai mesin penggerak cuan. Sayangnya, tim penjualan IBM gagal membaca sinyal pergeseran prioritas ini.

Akibatnya, banyak kesepakatan besar yang seharusnya bisa ditutup justru harus kandas atau tertunda dari jadwal yang ditentukan.

Fenomena ini mengungkap realita pahit di industri teknologi global. Perlombaan membangun infrastruktur AI bukan lagi sekadar tren, melainkan pertarungan eksistensi bagi perusahaan besar.

Klien lebih memilih mengamankan ketersediaan perangkat keras sekarang daripada menunggu harga yang mungkin akan terus meroket nantinya. Ketakutan akan kelangkaan stok menjadi pemicu utama pergeseran alokasi anggaran ini.

Selain soal AI, ancaman keamanan siber yang makin canggih juga ikut menyedot fokus anggaran perusahaan sepanjang kuartal tersebut. Meski IBM tidak merinci detail teknisnya, tekanan kebutuhan keamanan siber membuat ruang gerak bagi produk-produk tradisional IBM menjadi semakin sempit. Anggaran perusahaan-perusahaan global kini harus terbagi-bagi untuk memenuhi tuntutan keamanan sekaligus ambisi AI.

Cahaya di Tengah Badai

Namun, tidak semua lini bisnis IBM berada dalam kondisi memprihatinkan. Di tengah tekanan pada sektor mainframe, unit bisnis Red Hat justru tampil sebagai penyelamat dengan kenaikan pendapatan sebesar 11 persen. Hasil akuisisi perusahaan baru-baru ini, seperti HashiCorp dan Confluent, juga menunjukkan performa yang cukup solid.

Bahkan, sektor infrastruktur terdistribusi mampu mencetak rekor pertumbuhan fantastis hingga 37 persen. Capaian ini didorong oleh kuatnya permintaan pasar terhadap penjualan server Power dan sistem penyimpanan data yang canggih. Prestasi ini menunjukkan bahwa IBM sebenarnya masih memiliki produk yang dicari, asalkan mereka bisa menyesuaikan diri dengan selera pasar yang sedang berubah arah.

Sayangnya, anjloknya saham IBM tidak hanya memukul perusahaan itu sendiri. Sentimen negatif ini dengan cepat menular ke sektor perangkat lunak secara luas. Pelaku pasar yang panik langsung melakukan aksi jual besar-besaran.

Dampaknya terasa hingga ke raksasa teknologi lain; saham Microsoft, ServiceNow, hingga Salesforce ikut terseret turun di tengah kekhawatiran serupa mengenai daya beli pelanggan.

Para analis kini berfokus pada langkah apa yang akan diambil manajemen IBM berikutnya. Pertanyaannya sederhana namun krusial: mampukah IBM membuktikan bahwa mereka bisa beradaptasi dengan realitas di mana anggaran IT global lebih banyak terserap untuk memenuhi permintaan infrastruktur AI? Adaptasi ini menjadi taruhan besar bagi masa depan posisi mereka di pasar global.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda