WASHINGTON — Tes testosteron militer resmi masuk agenda baru Pentagon setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth pada Rabu mengumumkan program skrining “testosterone deficiency” untuk prajurit. Kebijakan itu akan diterapkan setiap tahun bagi anggota militer berusia 30 tahun ke atas, sementara mereka yang berusia di bawah 30 tahun bisa ikut tes secara sukarela.
Hegseth menyebut langkah itu perlu agar pasukan bisa bekerja pada “absolute best”. Dalam video di media sosial, ia juga mengatakan terapi pengganti testosteron akan bersifat sukarela. Belum jelas apakah kebijakan ini hanya menyasar prajurit pria, meski bahasa yang dipakai Hegseth hanya menyebut “troops” dan mengarah ke pemeriksaan hormon pada serdadu berseragam.
Tes testosteron militer dan arah kebijakan baru Pentagon
Pengumuman itu muncul ketika sejumlah pejabat pemerintahan Donald Trump mulai mendorong akses yang lebih mudah terhadap terapi testosteron bagi pria. Di saat yang sama, cara penyampaian Hegseth menuai tanda tanya karena ia mencampur penjelasan medis yang sudah dikenal dengan klaim yang belum sepenuhnya ditopang bukti ilmiah.
Ketika ditanya kondisi apa yang ingin ditangani lewat kebijakan baru ini, Pentagon merujuk pada pernyataan Hegseth yang menyinggung kebutuhan menjaga pasukan tetap “strong, resilient and capable”. Ia juga menyebut tuntutan medan perang modern membutuhkan “maximum psychological and mental readiness”.
Artinya, ini bukan sekadar urusan cek darah rutin. Pentagon sedang mendorong pendekatan yang menghubungkan hormon, performa, dan kesiapan tempur dalam satu paket kebijakan. Bagi militer, pesan semacam ini penting karena menyentuh standar kebugaran pasukan. Bagi dunia medis, bunyinya justru lebih rumit.
Riwayat penggunaan testosteron di pasukan elite
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan testosteron di kalangan pasukan operasi khusus, terutama Navy SEALs, mendapat sorotan internal. Kasus yang paling sering dikutip adalah kematian seorang calon rekrutan SEAL pada 2022 saat latihan.
Dari peristiwa itu, militer menemukan zat-zat dalam barang milik sang rekrutan, termasuk testosteron, dan kemudian mengungkap dugaan penggunaan obat yang jauh lebih luas di program elite tersebut daripada yang sebelumnya diakui.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.