JAKARTA — anggur Nebbiolo menunjukkan wajah yang sangat berbeda saat dicicipi buta dalam 300 sampel dari Barolo, Barbaresco, dan Roero di Alba, Piedmont, Italia utara. Dalam sesi tiga hari yang melelahkan itu, karakter tiap wilayah, bahkan tiap desa, muncul jelas lewat aroma mawar, ceri, tar, sampai mineral yang tajam.
Pengalaman blind tasting itu mempertemukan 100 wine per hari, dengan total 145 kilang anggur yang ikut serta. Hasilnya tidak sekadar daftar favorit. Sesi itu juga menegaskan kenapa Nebbiolo kerap disebut grape yang “sulit tapi jujur”: ia menyerap tanah, iklim mikro, dan posisi kebun dengan sangat detail.
Anggur Nebbiolo dan jejak tanah Piedmont
Nebbiolo punya reputasi rumit. Kulitnya tebal, taninnya tegas, dan warnanya cenderung lebih pucat dibanding banyak red wine lain. Tapi justru di situlah daya tariknya. Grape ini bisa menangkap karakter desa, lereng, bahkan petak kebun tertentu, lalu memindahkannya ke dalam gelas.
Penulis laporan asal The Guardian menggambarkan bagaimana rose menjadi bahasa universal dalam wine tasting. Ada mawar segar, kering, atau yang sudah diawetkan. Di Nebbiolo, aroma itu sering bertemu ceri, tar, dan herbal kering. Satu teguk bisa terasa lembut di awal, lalu menggigit di akhir.
Soal wilayah, Barolo dan Barbaresco berada di puncak klasemen ekspresi Nebbiolo. Roero berada di sisi yang lebih ringan dan muda. Bedanya bukan kosmetik. Tanah Roero jauh lebih muda, lebih berpasir, dan itu membuat profil wine-nya lebih harum dan lebih mudah diminum lebih awal.
Mengapa Barolo terasa paling kompleks
Barolo punya lapisan paling rumit. Hanya 11 desa yang boleh memproduksinya, semuanya berada di selatan atau barat daya Alba. Di dalam area itu, ada 170 Menzioni Geografiche Aggiuntive atau MGA, semacam penanda lokasi yang mirip sistem cru di Prancis.
Nama-nama seperti Cannubi, Vignarionda, dan Bussia sering diperlakukan hampir seperti wilayah elite. Wajar. Di Barolo, lokasi memang menentukan banyak hal. Nebbiolo dari lereng yang satu bisa terasa berbeda jauh dari kebun tetangga, meski pembuatnya sama.
Geolog Edmondo Bonelli, yang memandu kunjungan lapangan ke Treiso, menjelaskan bahwa tanah Langhe mulai terbentuk sekitar 15 juta tahun lalu, saat kawasan itu masih berada di bawah air. Lapisan batu kapur, marl, clay, dan sandstone membentuk struktur dan “tulang punggung” wine.
Roero, sebaliknya, berdiri di atas pasir yang jauh lebih muda, sekitar 7 juta tahun, sehingga hasil akhirnya lebih ringan.
Kalimat pendek saja cukup. Nebbiolo memang cerewet.
2022 dan 2023, dua tahun yang memberi warna berbeda
Tahun panen juga memberi pengaruh besar. Untuk 2022, Piedmont menghadapi kekeringan nyaris memecahkan rekor. Berrynya kecil, asamnya lebih rendah, tannin terasa lebih kering, dan panen datang lebih cepat dari biasanya. Secara teori, itu terdengar seperti tahun sulit.
Tapi para pembuat wine bergerak cepat. Mereka mempersingkat kontak kulit untuk melunakkan tannin, menurunkan suhu fermentasi agar rasa segar bertahan, dan mengurangi stirring maupun pumping supaya tenaga wine tidak terlalu besar. Beberapa estate yang besar bahkan memilih tidak merilis single-vineyard wine mereka, lalu memasukkan buahnya ke dalam blend yang lebih luas.
Di ruang cicip Albeisa, konsorsium 318 grower yang sudah menjalankan sesi ini selama 30 tahun, hari pertama fokus pada Barbaresco dan Roero 2023. Dua hari berikutnya dipakai untuk Barolo 2022, yang baru siap dirilis pada Januari 2026, tepat empat tahun setelah panen.
Enam produsen yang paling menonjol
Dari 300 sampel, enam produsen meninggalkan kesan paling kuat. Giuseppe Cortese tampil lewat 2023 Rabajà, yang disebut sebagai Barbaresco terbaik dalam sesi itu. Wine ini cerah, lincah, dengan strawberry, crushed roses, pink pepper, blood orange, dan tannin elegan yang ditopang minerality seperti besi.
Davide Rosso, yang menggarap lahan di Serralunga bersama ibunya, Ester, juga mencuri perhatian lewat Serra. Karakternya lebih serius: cherry, kulit jeruk kering, bay leaf, mace, dan sage. Ini gaya Serralunga yang klasik. Dibangun untuk disimpan, bukan dibuka malam ini juga.
Oddero Poderi e Cantine, Barolo DOCG Villero 2022, masuk deretan yang patut dicatat karena menunjukkan bagaimana Barolo bisa tetap berstruktur tanpa kehilangan daya tarik aromatik. Brovia, rumah keluarga yang berdiri sejak 1863, juga disebut kuat berkat pendekatan fermentasi yang hands-off, memakai concrete tank dan native yeasts.
Nama lain yang ikut menguatkan daftar itu datang dari produsen yang konsisten di wilayahnya masing-masing. Intinya sama: kebun berbicara. Bukan sekadar merek.
Soal pembaca wine, apa dampaknya
Buat pasar wine di Indonesia, cerita seperti ini penting karena membantu pembaca membaca label tanpa harus bergantung pada merek besar saja. Barolo, Barbaresco, dan Roero sering terlihat serupa di rak, padahal rasa dan struktur mereka bisa sangat jauh berbeda.
Setelah tahu karakter tiap wilayah, orang lebih mudah memilih wine untuk disimpan, dibuka lebih cepat, atau dipasangkan dengan hidangan tertentu.
Angka-angka dari sesi tasting juga memberi konteks yang berguna: 300 sampel, 145 kilang, tiga hari cicip buta, dan dua vintages yang punya tantangan sendiri. Itu membuat penilaian tidak berhenti di impresi romantis. Ada data rasa, ada data wilayah, ada data panen.
Dan di tengah semua itu, Nebbiolo tetap setia pada cirinya: anggun, keras kepala, dan sangat terikat tempat asal. Seperti yang ditekankan Edmondo Bonelli saat menjelaskan tanah Langhe, perubahan kecil di komposisi tanah bisa mengubah hasil di gelas. “Change the composition, and the wine adapts,” ujarnya, menegaskan bahwa karakter Nebbiolo selalu lahir dari tanah tempat ia tumbuh.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.