Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
POLITICS

Prabowo ke Pengkritik: Kalau Tak Rela Petani Berpenghasilan Tinggi, Tanam Padi Sendiri

Prabowo ke Pengkritik
Presiden Prabowo Subianto melontarkan kalimat pedas yang langsung mengena ke perut persoalan pertanian nasional. Credit: Photo: SMKN 1 Gantar / Unsplash

Presiden Prabowo Subianto melontarkan kalimat pedas yang langsung mengena ke perut persoalan pertanian nasional. Ia menantang siapa pun yang keberatan melihat petani memperoleh penghasilan tinggi: kalau memang tak rela, silakan tanam padi sendiri.

Kalimatnya singkat. Tapi sasarannya jelas.

Ucapan Prabowo itu menyentuh perdebatan klasik yang tak pernah benar-benar selesai di Indonesia. Setiap kali harga gabah naik dan petani akhirnya bisa bernapas lega, selalu muncul suara keberatan. Argumennya hampir selalu sama: harga beras di pasaran ikut terdongkrak, konsumen menjerit, inflasi terancam naik. Petani lagi-lagi berada di posisi yang serba salah—dituntut produksi melimpah, tapi tak boleh menikmati harga bagus.

Prabowo membalik logika itu. Jangan cuma menuntut beras murah kalau tak pernah merasakan bagaimana petani membanting tulang di sawah, menggadai tenaga di bawah terik matahari, menanggung risiko gagal panen dari musim ke musim. “Pokoknya kalau petani enggak boleh berpenghasilan tinggi, ya tanam padi sendiri,” begitu bunyi tantangan yang ia lontarkan.

Bagi mantan Pangkostrad itu, kesejahteraan petani bukan barang yang bisa ditawar-tawar. Sejak masa kampanye kepresidenan, ia memang konsisten menempatkan petani dan swasembada pangan di jantung agendanya. Retorikanya pun kerap memakai bahasa yang sama: negara tak mungkin kuat kalau orang yang menanam makanan justru hidup pas-pasan.

Pernyataan semacam ini juga bisa dibaca sebagai pagar tegas untuk jajaran di bawahnya. Pesan tersiratnya, kebijakan pertanian jangan sampai berpihak pada penekanan harga semata dengan mengorbankan pendapatan di tingkat produsen. Kepala negara seolah mengingatkan, keseimbangan antara kepentingan konsumen dan petani harus dijaga—dan kali ini ia berdiri jelas di sisi petani.

Dilemanya memang nyata. Di satu pihak ada ratusan juta konsumen yang butuh beras terjangkau. Di pihak lain ada jutaan keluarga petani yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan pangan nasional dengan imbal hasil yang jauh dari memuaskan. Ongkos produksi membengkak, harga pupuk dan benih tak ramah, sementara lahan garapan rata-rata petani Indonesia makin sempit. Wajar bila setiap kenaikan harga gabah disambut seperti oase oleh mereka.

Publik kini menanti bagaimana sikap keras sang presiden diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret—soal harga pembelian gabah, tata niaga beras, sampai perlindungan petani dari impor yang kerap datang di waktu panen. Retorika sudah disampaikan dengan gamblang. Giliran eksekusinya yang dinanti.

Dan pesan Prabowo pada akhirnya bermuara ke satu tantangan yang sama, lugas tanpa basa-basi: kalau tak mau petani hidup layak dari sawahnya sendiri, “ya tanam padi sendiri”.

(EV)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda