Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Wabah penyakit di Kongo, Sudan, dan Yaman makin parah saat perang

Wabah penyakit di kamp pengungsi dan fasilitas kesehatan darurat
Kamp pengungsi yang padat memudahkan wabah penyakit menyebar saat akses air dan layanan kesehatan terbatas. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — wabah penyakit di wilayah konflik seperti Republik Demokratik Kongo, Sudan, dan Yaman bergerak jauh lebih mematikan ketika perang ikut memutus air bersih, layanan kesehatan, dan jalur bantuan. Dalam laporan DW yang merujuk data WHO, situasi ini terlihat jelas dari lonjakan Ebola di timur Kongo serta wabah kolera yang berulang di Sudan dan Yaman.

Di kamp Kigonze, pinggiran Bunia, timur Kongo, D’zirava Lety hidup bersama sekitar 20.000 pengungsi internal yang melarikan diri dari kekerasan kelompok bersenjata. Kondisinya serba terbatas. Satu keran untuk ribuan orang. Toilet minim. Sabun dan perlengkapan higienis nyaris tak ada.

“Tidak ada air. Di seluruh kamp, hanya ada satu keran. Tantangan lain adalah tidak adanya toilet. Anak-anak buang air di mana saja. Dengan penyakit yang datang, kami diminta mencuci tangan, tapi tidak ada paket kebersihan,” kata Lety kepada DW. Kalimatnya pendek. Dan keras.

Di Kongo, Ebola menjalar di tengah pengungsian

Otoritas kamp mengatakan Ebola terdeteksi pada Juni di tengah warga yang meninggal. Ketua kamp Étienne Ndrutsi menyebut sejak Ebola tiba, pihaknya mencatat hingga enam kematian per hari. Di wilayah itu, strain Bundibugyo yang jarang muncul dilaporkan telah beredar sejak setidaknya April, menurut para ahli.

WHO kemudian menetapkan kejadian itu sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat. Hingga pertengahan Juli, Republik Demokratik Kongo mencatat 1.963 infeksi terkonfirmasi dan 719 kematian. Negara tetangga, Uganda, melaporkan 20 kasus dan dua kematian. WHO memperkirakan laporan yang terdeteksi baru sekitar satu dari dua kasus, bahkan mungkin hanya satu dari empat.

Angka itu penting. Bukan sekadar statistik. Di wilayah yang bergolak, kasus yang tidak terdeteksi berarti rantai penularan bisa terus bergerak tanpa terlihat. Kamp padat, perpindahan penduduk, dan fasilitas kesehatan yang sulit dijangkau membuat virus punya banyak jalur.

Kenapa konflik membuat wabah penyakit makin sulit dikendalikan

Juste Codjo, peneliti keamanan di Kean University, New Jersey, menegaskan fasilitas kesehatan, laboratorium, ambulans, dan jalur pasokan medis harus dilindungi dari intervensi militer maupun perebutan pengaruh politik.

Menurut dia, hukum humaniter internasional memang melindungi akses layanan kesehatan saat konflik, tetapi di lapangan perlindungan itu harus dijaga lewat negosiasi praktis dengan semua pihak yang menguasai wilayah.

Di titik ini, masalahnya bukan cuma soal virus. Konflik memperlambat pengiriman obat, membatasi pergerakan petugas, dan membuat warga ragu datang ke klinik. Ketika orang harus memilih antara berlindung dari serangan atau mencari perawatan, wabah mendapat ruang lebih luas untuk menyebar.

Itulah sebabnya krisis kesehatan di zona perang sering berubah jadi krisis berlapis. Air bersih langka. Vaksin sulit masuk. Tenaga medis bergerak dengan risiko tinggi. Dan warga yang sudah tertekan pengungsian justru jadi kelompok paling rentan tertular.

Sudan dan Yaman menunjukkan pola yang sama

Pola serupa terlihat di Yaman, tempat organisasi bantuan dan otoritas setempat sudah bertahun-tahun menghadapi wabah kolera berulang di tengah perang. Di Sudan, lebih dari 3.500 orang dilaporkan meninggal sejak 2024 akibat epidemi kolera yang dikaitkan dengan perang saudara yang masih berlangsung. Salah satu penyebab utamanya adalah pembatasan akses kemanusiaan oleh pihak yang bertikai.

DW menulis, situasi seperti ini bukan hal baru. Dalam perang saudara El Salvador pada 1980-1992, pihak-pihak yang bertikai sempat menyepakati tiga gencatan senjata satu hari agar kampanye vaksinasi anak bisa berjalan aman. Contoh itu menunjukkan konflik tidak selalu menutup semua jalan. Kadang, jeda singkat justru menyelamatkan banyak nyawa.

Di Kongo sendiri, seruan gencatan senjata untuk membantu menahan Ebola belum dijawab. Sementara itu, data dari Beni memberi gambaran lain: setelah vaksinasi dimulai, tiap orang terinfeksi menulari rata-rata 0,8 orang, lalu angka reproduksi naik lagi menjadi 1,9 usai serangan pemberontak, sebelum turun ke 0,72 pada November 2018. Naik-turunnya angka itu mengikuti naik-turunnya kekerasan.

Soal kepercayaan warga, bukan cuma soal alat medis

Masalah kepercayaan ikut memperumit keadaan. Di wilayah terpencil, akses kesehatan sering hanya muncul saat krisis besar. Situasi itu membuat sebagian warga curiga terhadap petugas kesehatan yang datang dengan alat pelindung lengkap. Teori konspirasi pun cepat menyebar. Cepat sekali.

Para ahli karena itu mendorong pendekatan berbasis tokoh lokal dan pemimpin agama untuk membangun kepercayaan. Bagi respons wabah, langkah ini sama pentingnya dengan obat, jarum suntik, atau ambulans. Tanpa kepercayaan, warga enggan dites, menolak dirujuk, lalu menunda penanganan.

Di timur Kongo, pusat wabah saat ini berada di Provinsi Ituri, area yang diperebutkan milisi dan tentara pemerintah. Kasus juga terus muncul di wilayah lain, termasuk ke selatan, tempat koalisi pemberontak AFC/M23 menguasai wilayah luas sejak awal 2025. Kelompok itu membangun institusi sendiri dan memperkuat posisi tawar terhadap pemerintah di Kinshasa.

Dalam wilayah yang dikuasai AFC/M23, kelompok itu membentuk zona darurat dan meningkatkan pengujian saat kasus pertama dilaporkan. Menurut laporan Reuters yang dikutip DW, Rwanda juga memberi dukungan, meski Kigali membantah tuduhan bahwa mereka mendukung pemberontak. WHO, secara pragmatis, tetap bekerja sama dengan mereka.

Kementerian Kesehatan di Kinshasa disebut banyak tersingkir dari lapangan, meski masih menerima data dan hasil tes dari wilayah terkait. Pada akhir Juni, AFC/M23 menyatakan wabah lokal di wilayah yang mereka kuasai telah terkendali. Tetapi di Ituri, penularan masih meningkat.

Codjo memperingatkan agar bantuan tidak dijadikan alat legitimasi politik. “Mereka tidak boleh membiarkan kekhawatiran soal pencitraan politik menghalangi bantuan penyelamat nyawa,” ujarnya kepada DW. “Kesehatan publik tidak boleh disandera oleh kontestasi legitimasi.”

Dan selama perang belum reda, angka-angka itu akan terus berbicara. Di Kongo, WHO memperkirakan sebagian besar kasus belum terdeteksi; di lapangan, itu berarti wabah penyakit masih punya jalan panjang sebelum benar-benar terkendali.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda