Sabtu, 18 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Wabah penyakit di Kongo, Sudan, dan Yaman makin parah saat perang

Wabah penyakit di kamp pengungsi dan fasilitas kesehatan darurat
Kamp pengungsi yang padat memudahkan wabah penyakit menyebar saat akses air dan layanan kesehatan terbatas. (Ilustrasi: AI)

Menurut dia, hukum humaniter internasional memang melindungi akses layanan kesehatan saat konflik, tetapi di lapangan perlindungan itu harus dijaga lewat negosiasi praktis dengan semua pihak yang menguasai wilayah.

Di titik ini, masalahnya bukan cuma soal virus. Konflik memperlambat pengiriman obat, membatasi pergerakan petugas, dan membuat warga ragu datang ke klinik. Ketika orang harus memilih antara berlindung dari serangan atau mencari perawatan, wabah mendapat ruang lebih luas untuk menyebar.

Itulah sebabnya krisis kesehatan di zona perang sering berubah jadi krisis berlapis. Air bersih langka. Vaksin sulit masuk. Tenaga medis bergerak dengan risiko tinggi. Dan warga yang sudah tertekan pengungsian justru jadi kelompok paling rentan tertular.

Sudan dan Yaman menunjukkan pola yang sama

Pola serupa terlihat di Yaman, tempat organisasi bantuan dan otoritas setempat sudah bertahun-tahun menghadapi wabah kolera berulang di tengah perang. Di Sudan, lebih dari 3.500 orang dilaporkan meninggal sejak 2024 akibat epidemi kolera yang dikaitkan dengan perang saudara yang masih berlangsung. Salah satu penyebab utamanya adalah pembatasan akses kemanusiaan oleh pihak yang bertikai.

DW menulis, situasi seperti ini bukan hal baru. Dalam perang saudara El Salvador pada 1980-1992, pihak-pihak yang bertikai sempat menyepakati tiga gencatan senjata satu hari agar kampanye vaksinasi anak bisa berjalan aman. Contoh itu menunjukkan konflik tidak selalu menutup semua jalan. Kadang, jeda singkat justru menyelamatkan banyak nyawa.

Di Kongo sendiri, seruan gencatan senjata untuk membantu menahan Ebola belum dijawab. Sementara itu, data dari Beni memberi gambaran lain: setelah vaksinasi dimulai, tiap orang terinfeksi menulari rata-rata 0,8 orang, lalu angka reproduksi naik lagi menjadi 1,9 usai serangan pemberontak, sebelum turun ke 0,72 pada November 2018. Naik-turunnya angka itu mengikuti naik-turunnya kekerasan.

Soal kepercayaan warga, bukan cuma soal alat medis

Masalah kepercayaan ikut memperumit keadaan. Di wilayah terpencil, akses kesehatan sering hanya muncul saat krisis besar. Situasi itu membuat sebagian warga curiga terhadap petugas kesehatan yang datang dengan alat pelindung lengkap. Teori konspirasi pun cepat menyebar. Cepat sekali.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda