| # | Pemain | Negara | Gol | Assist |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Kylian Mbappe | Prancis | 10 | 4 |
| 2 | Lionel Messi | Argentina | 8 | 4 |
| 3 | Jude Bellingham | Inggris | 7 | 1 |
| 4 | Erling Haaland | Norwegia | 7 | 0 |
| 5 | Ousmane Dembele | Prancis | 6 | 2 |
| 6 | Harry Kane | Inggris | 6 | 1 |
Bagi Messi, turnamen ini menjadi penampilan Piala Dunia terakhirnya dengan level produktivitas yang tetap tinggi di usia 39 tahun. Namun trofi yang paling ia inginkan untuk mengulang kejayaan Qatar harus berpindah ke tangan generasi baru Spanyol yang dipimpin Yamal, Pedri, dan Torres.
Gelar ini juga menjadi puncak kerja panjang Luis de la Fuente, pelatih yang naik dari tim junior Spanyol dan kini menuntaskannya di level tertinggi. Ia mewarisi generasi emas baru — Lamine Yamal yang baru 19 tahun, Pedri sang metronom lini tengah, hingga Nico Williams dan Ferran Torres yang bergantian menjadi pembeda. Bagi Spanyol, ini bukan sekadar trofi, melainkan penegasan bahwa filosofi penguasaan bola mereka masih relevan di sepak bola modern.
⚽ Baca juga: Piala Dunia 2026 — Bagan, Jadwal Hari Ini & Klasemen Live
Di sisi lain lapangan, Argentina meninggalkan MetLife dengan kepala tertunduk namun terhormat. Bermain hampir setengah jam dengan sepuluh orang, mereka menahan gempuran Spanyol hingga menit-menit akhir sebelum akhirnya menyerah. Lionel Scaloni tetap membangun tim yang kompetitif empat tahun setelah kejayaan Qatar, dan Messi — di kemungkinan Piala Dunia terakhirnya — pergi sebagai salah satu pencetak gol tersubur turnamen. Estafet kini berpindah, tetapi jejak generasi Argentina itu tak terhapus.
Spanyol kini berdiri sejajar dengan negara-negara yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia lebih dari sekali, menegaskan bahwa gelar 2010 bukanlah puncak yang berdiri sendiri. Dari Johannesburg ke New Jersey, La Roja menuntaskan lingkaran itu dengan cara yang paling dramatis: satu gol, di menit 106, lewat kaki kiri Ferran Torres.
