Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Race Around the World: 6 Film Pekan 7 dan Jadwal Tayangnya

Race Around the World
Race Around the World: 6 Film Pekan 7 dan Jadwal Tayangnya

JAKARTA — Race Around the World memasuki minggu ketujuh saat enam pembuat film di ABC iview diminta bekerja cepat: mereka baru tahu tujuan perjalanan mereka sehari sebelumnya, lalu hanya punya 10 hari untuk mencari cerita dan membuat film pendek.

Hasilnya beragam. Dari gulat Meksiko, gang-gang permukiman di India, sampai kisah duka di Azerbaijan, pekan ini memperlihatkan bagaimana tiap peserta membaca tempat yang mereka datangi dengan sudut pandang yang sangat berbeda.

Race Around the World dan tantangan 10 hari yang menentukan

Format Race Around the World memang menekan. Para filmmaker bukan cuma harus berpindah negara, tapi juga berhadapan dengan tenggat yang rapat dan keputusan kreatif yang mesti diambil hampir seketika.

Setiap minggu, mereka hanya mendapat pemberitahuan tujuan dengan jeda satu hari. Setelah itu, waktu berjalan cepat. Mereka harus menemukan cerita, merekamnya, lalu menyerahkan film pendek itu untuk dinilai panel ahli.

Yang menarik, tekanan itu justru melahirkan film yang terasa sangat personal. Ada yang memilih cerita soal identitas. Ada yang menyorot tempat. Ada pula yang menangkap kehilangan dan ingatan.

Enam film, enam arah cerita

Film pertama datang dari kisah Kashif, yang tinggal di kawasan permukiman kumuh terbesar di Asia. Di tengah dorongan pembangunan, ia tak ingin melihat rumahnya hilang begitu saja. Cerita ini bergerak di antara harapan dan kegelisahan. Kasar, tapi dekat.

Film berikutnya membawa penonton ke Paris. Nada ceritanya lebih reflektif. Satu pertanyaan sederhana jadi pusatnya: pernahkah seseorang tiba di suatu tempat lalu ingin mengubah seluruh kepribadiannya? Paris, dalam film ini, digambarkan sebagai kota yang memancing orang untuk membentuk ulang diri mereka.

Lalu ada Berlin. Kota itu disebut dibangun di atas ingatan. Namun saat dukungan terhadap kelompok far right mencapai tingkat yang belum pernah terlihat sejak era pascaperang, banyak orang yang membentuk Berlin mulai merasakan sesuatu bergeser di bawah permukaan. Sunyi. Mengganggu.

Film keempat mengangkat dunia lucha libre. Paco menjadi Chamuel, sang luchador, sejak umur 13 tahun. Dalam dunia itu, ia adalah seorang villain. Cerita ini meminjam energi panggung, topeng, dan identitas ganda yang memang lekat dengan gulat hiburan khas Meksiko.

Masih di daftar pekan ini, ada film yang lebih seperti dongeng. Dari beranda belakang kastel mereka, King Ethan dan Queen Ingrid memandang hutan luas di kerajaan burung mereka. Imajinatif, lembut, dan terasa seperti kabar dari dunia yang sengaja diciptakan untuk dilihat dari jauh.

Yang terakhir datang dari Azerbaijan. Setelah konflik terbaru di negara itu, ribuan anak tumbuh tanpa ayah mereka. Di antara mereka ada dua anak perempuan berusia 12 tahun yang saling menemukan lewat duka yang sama. Cerita ini jadi pengingat bahwa perang tidak berhenti ketika senjata diam. Luka sosialnya tinggal lama.

Ada juga cerita di balik para pembuat film

ABC iview juga menampilkan cuplikan perkenalan diri para filmmaker. Salah satunya menyebut dirinya “Artistic, poetic, magazine.” Motto yang ia bawa ke perjalanan ini tegas: “Art is subjective. Not everyone is going to like your film, so as long as you make something that you’re proud of, it doesn’t really matter if people don’t like it.”

Ia juga bilang benda yang wajib masuk koper adalah wired headphones. Alasannya sederhana. Terlalu banyak perjalanan untuk bergantung pada AirPods yang harus terus diisi daya. Kekhawatiran terbesarnya saat di luar negeri: peralatan syuting basah kalau bagasi jatuh ke air. “With all our filming gear, water is really hard to recover from.”

Peserta lain menggambarkan dirinya sebagai “Chaotic, introverted extrovert.” Ia membawa kacamata ke mana-mana, meski mengaku mudah kehilangan. Dalam sebulan terakhir, ia sudah kehilangan tiga pasang. Motto yang ia pegang juga singkat: “Viva como se fosse morrer amanhã.” Baginya, hidup harus dinikmati setiap hari.

Ada pula yang menyebut dirinya “Easy-going, lively, passionate.” Ia membawa lensa panjang yang berat dan besar, benda yang ia akui tidak akan disukai siapa pun yang harus membawanya keliling 10 negara. Kekhawatirannya cukup klasik bagi pembuat film perjalanan: sampai di hari kesembilan, lalu cerita tiba-tiba gagal.

Seorang peserta lain menulis dirinya sebagai “Bubbly, curious, unconventional.” Motonya cuma satu kata: “YOLO [you only live once].” Ia membawa kalung yang dianggap sebagai jimat. Sementara peserta dengan deskripsi “Curious, Wollongong, humorist” menyebut motto “Water off a duck’s back” dan mengandalkan cincin milik neneknya sebagai pembawa keberuntungan.

Nama terakhir yang ditampilkan ABC iview menulis dirinya “Content, introspective, disorganised.” Ia memilih kalimat paling singkat untuk motto: “Have fun.” Barang yang pasti masuk tasnya adalah Nintendo Switch.

Kekhawatirannya justru soal citra sebagai machine learning engineer yang bisa berubah kalau ia terdengar seperti tidak ingin menjalani perjalanan ini, padahal ia sendiri mencintai pekerjaannya.

Bagi penonton, pekan ketujuh ini memberi semacam peta emosi. Ada film yang berangkat dari rumah, ada yang menatap kota asing, ada yang mengolah kehilangan, ada yang bermain dengan fantasi. Tiga menit pertama bisa terasa seperti pintu masuk; sisanya sering bergantung pada bagaimana tiap filmmaker memegang rasa ingin tahu mereka.

Itu juga sebabnya jajak pendapat penonton yang dibuka ABC iview terasa relevan. Penonton diminta memilih film favorit dari line-up pekan ini. Poll akan ditutup pada Jumat, 24 Juli, pukul 4 pm.

Race Around the World bisa ditonton lewat ABC iview atau setiap Minggu pukul 7:30 pm di ABC TV. Minggu berikutnya, pertanyaannya sederhana: negara mana yang akan jadi tujuan baru, dan cerita seperti apa yang lahir dari tenggat 10 hari yang kembali menghimpit mereka?

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda