Selasa, 21 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tren IPTV 2026: Pasar Tembus $221 Miliar, Kenapa Orang Tinggalkan TV Kabel

IPTV 2026
Tren IPTV 2026: Pasar Tembus $221 Miliar, Kenapa Orang Tinggalkan TV Kabel. Credit: Dok. JournalArta

JAKARTA, JOURNALARTA.COM – IPTV global terus naik dan diprediksi mencapai US$221,62 miliar pada 2026. Pergeseran ini didorong harga kabel yang mahal dan kebiasaan menonton konten on-demand yang makin kuat.

Dampaknya terasa langsung ke industri televisi. Jumlah pelanggan IPTV diperkirakan menembus 398 juta pada 2026, sedangkan pelanggan TV kabel turun ke 389 juta.

Pasar IPTV global tumbuh cepat

Menurut laporan terbaru, pasar IPTV global bergerak dari US$189,25 miliar pada 2025 menjadi US$221,62 miliar di 2026. Kenaikan itu setara 17% dan menunjukkan arah pasar yang makin jelas bahwa orang berpindah dari pola siaran konvensional ke layanan berbasis internet.

Di Jerman, 54% rumah tangga sudah memakai IPTV atau streaming, melampaui kabel dan satelit yang ada di 28%. Angka ini penting karena memperlihatkan perubahan perilaku menonton tidak lagi berhenti di Amerika Utara atau pasar besar tertentu, melainkan sudah merata di negara dengan infrastruktur matang.

Bagi penyedia layanan, sinyalnya sederhana. Siapa yang lambat menyesuaikan paket, fitur, dan distribusi konten akan tertinggal. Bagi pemirsa, pilihan makin banyak, tapi juga makin bergantung pada kualitas jaringan dan harga paket data atau langganan.

5 tren yang mendorong IPTV global

Harga langganan yang naik membuat paket gratis beriklan kembali dilirik. Laporan itu menyebut 46% langganan baru kini adalah ad-supported. Deutsche Telekom dan Orange sudah meluncurkan tier gratis dan meraih 3.8 juta viewers.

Model super-aggregation juga menguat. Pengguna tidak mau lagi bolak-balik dari satu aplikasi ke aplikasi lain. Platform yang bisa menggabungkan banyak layanan dalam satu tempat terbukti menurunkan churn pelanggan sampai 18%.

Bundling telco dan fiber ikut mendorong pasar. China Telecom menjual paket fiber gigabit, 200 channel, dan data unlimited seharga $42 dan mendapat 8.5 juta pelanggan baru. Di saat yang sama, jalur fiber global sudah tembus 600 juta, memberi ruang bagi streaming 4K dan 8K.

Teknologi pencarian ikut berubah. AI dipakai untuk rekomendasi real-time dan pencarian berbasis intent, sehingga katalog yang besar tidak lagi terasa membingungkan. Codec AV1 juga menekan kebutuhan bandwidth 30-50%, sementara 5G membuat tayangan IPTV 4K di ponsel lebih stabil.

Kenapa pergeseran ini penting

Soal uang tetap jadi alasan paling keras. Paket kabel di AS disebut berada di atas $110 per bulan, sedangkan di Kanada berkisar $120-$180 per bulan. IPTV, menurut laporan itu, hanya $15-$25 per bulan. Selisihnya bisa membuat hemat $600-$1200 per tahun.

Untuk rumah tangga, hitungannya jelas. Untuk industri, tekanannya lebih besar. Penyedia TV kabel harus menghadapi pelanggan yang makin sensitif pada harga, sementara operator internet dan platform streaming punya peluang menambah langganan lewat bundling, iklan, dan fitur personalisasi.

Di titik ini, pasar tidak lagi sekadar soal perpindahan teknologi. Ini soal siapa yang menguasai layar utama di rumah. IPTV menawarkan efisiensi, fleksibilitas, dan katalog yang luas. Tapi keberhasilan model ini tetap bergantung pada koneksi yang stabil, sistem distribusi yang rapi, dan pengalaman menonton yang tidak bikin orang bolak-balik mencari aplikasi lain.

Tantangan yang belum selesai

Masalahnya, IPTV belum mulus sepenuhnya. Saat event besar seperti Piala Dunia, bottleneck masih terjadi dan 22% penonton disebut mengalami penurunan kualitas. Di saat yang sama, piracy IPTV ilegal masih tinggi di Eropa dan Asia Tenggara.

Artinya, pertumbuhan pasar belum otomatis berarti pengalaman menonton yang sempurna. Penyedia layanan masih harus membenahi kapasitas jaringan, perlindungan konten, dan stabilitas layanan kalau ingin pertumbuhan US$221,62 miliar itu benar-benar bertahan.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda