CHICAGO — Jesse Sullivan menggerakkan jari-jari tangannya yang hilang dua tahun lalu. Bukan karena tangan itu masih ada—kedua lengannya terputus saat kecelakaan kabel listrik di Dayton, Tennessee—melainkan karena otaknya kini bisa berbicara langsung dengan tangan mekanis yang menggantikannya.
Sullivan adalah manusia pertama yang menerima cangkok saraf-otot revolusioner ini. Hasilnya: dia bisa mengangkat koin dari lantai, menjepit bola, dan melakukan tugas-tugas sehari-hari yang mustahil dengan prostetik generasi lama.
“Dalam pikiran saya, tangan saya masih ada,” kata Sullivan. “Jadi saya menggunakan siku saya sebagai kendali. Ketika saya membukanya, saya benar-benar membuka tangan saya. Ketika saya menutupnya, saya benar-benar menutup tangan saya.”
Rewiring Saraf Manusia
Keajaiban ini dimulai dari teknologi baru yang dipimpin Dr. Todd Kuiken dan rekan-rekannya di Rehabilitation Institute of Chicago. Caranya? Para ahli bedah mengambil ujung saraf yang terputus—saraf yang dulunya mengendalikan lengan Sullivan—dan mengarahkannya ulang ke otot-otot di dadanya.
Saraf-saraf itu tumbuh ke dalam otot. Hasilnya, otak Sullivan kini bisa menggerakkan otot dada itu sama seperti menggerakkan lengan aslinya.
“Kami pada dasarnya merekabel ulang dia,” jelas Kuiken. “Kami menggunakan ototnya sebagai penguat sinyal saraf secara biologis.” Ketika Sullivan memikirkan “tutup tangan,” saraf yang tadinya menutup tangannya membuat otot dada kecil berkontraksi. Dua antena kecil di rompi pendukung menangkap kontraksi itu melalui aktivitas listrik, lalu menerjemahkannya menjadi perintah ke tangan buatan.
Proses ini menunjukkan sesuatu yang fundamental: otak manusia jauh lebih plastis dan adaptif daripada yang dulu dipikirkan. Sistem saraf bisa dilatih ulang, diubah tujuannya, dan dihubungkan dengan cara-cara baru.
Baru Permulaan
Teknologi Sullivan masih jauh dari sempurna. Pergerakan terbatas pada buka-tutup, tidak ada kontrol halus untuk setiap jari. Kuiken mengakui potensi jauh lebih besar menunggu penelitian lanjutan.
“Saraf yang dulu pergi ke tangan menutup semua jari secara individual, menutup ibu jari, melakukan banyak hal selain sekadar buka-tutup,” ujarnya. “Dengan teknik pemrosesan sinyal lanjutan, kita bisa mendapat kontrol lebih baik dari yang kita miliki sekarang.”
Sementara itu, di Duke University, neurolog Miguel Nicolelis mengambil pendekatan berbeda: dia melewati otot sama sekali. Penelitiannya membaca langsung aktivitas elektrik di otak monyet.
Nicolelis dan timnya menanamkan elektroda berukuran rambut ke permukaan otak monyet, lalu menghubungkannya ke komputer. Monyet-monyet dilatih bermain video game menggunakan joystick. Komputer merekam apa yang terjadi di otak mereka saat melakukan gerakan tertentu.
Tantangannya besar: otak tidak memiliki sel-sel khusus yang mengontrol gerakan spesifik. Aktivitas itu tersebar di seluruh “motor system” otak. “Tidak ada satu lokasi pusat di otak tempat informasi ini disimpan atau diproses,” kata Nicolelis. “Itu adalah gambaran yang sampai baru-baru ini tidak bisa kita dapatkan: bagaimana rangkaian otak beroperasi secara real-time.”
Tapi mereka berhasil. Software menerjemahkan sinyal otak menjadi perintah yang menggerakkan lengan robotik dengan cara yang sama seperti joystick. Momen puncak tiba ketika mereka memutuskan joystick. Monyet terus mencoba menggerakkannya, tapi dengan cepat menyadari kursor di layar tidak merespons lagi. Kemudian, monyet itu mulai menggerakkan kursor hanya dengan pikiran.
Implikasinya jelas bagi pejuang amputasi di dunia: jika teknologi ini bisa ditingkatkan ke manusia, cacat fisik bukan lagi hambatan untuk kontrol presisi. Otak bisa langsung berbicara dengan mesin. Tidak perlu lagi switch manual atau perangkat antara. Hanya niat, dan gerakan mengikuti.
Sullivan sudah merasakan perbedaan. Dengan prostetik lama, dia perlu bergulat untuk mengangkat benda. Dengan tangan baru, tugas-tugas sederhana jadi mudah.
“Itu secara dramatis meningkatkan pandangan saya tentang kehidupan,” katanya, “karena saya sekarang bisa melakukan banyak hal sendiri.” Penelitian seperti ini tidak hanya mengubah kehidupan individual amputee.
Ini adalah bukti bahwa neuroplastisitas otak manusia masih penuh dengan kemungkinan yang belum tergali.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.