Kamis, 23 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tangan Robotik Dikendalikan Langsung dari Otak, Teknologi Revolusioner untuk Amputee

Tangan robotik dengan sensor elektroda yang dikendalikan langsung dari sinyal otak melalui saraf yang ditanam kembali
Prostetik tangan pintar yang dikendalikan otak adalah terobosan dari Rehabilitation Institute of Chicago. (Ilustrasi: AI)

CHICAGO — Jesse Sullivan menggerakkan jari-jari tangannya yang hilang dua tahun lalu. Bukan karena tangan itu masih ada—kedua lengannya terputus saat kecelakaan kabel listrik di Dayton, Tennessee—melainkan karena otaknya kini bisa berbicara langsung dengan tangan mekanis yang menggantikannya.

Sullivan adalah manusia pertama yang menerima cangkok saraf-otot revolusioner ini. Hasilnya: dia bisa mengangkat koin dari lantai, menjepit bola, dan melakukan tugas-tugas sehari-hari yang mustahil dengan prostetik generasi lama.

“Dalam pikiran saya, tangan saya masih ada,” kata Sullivan. “Jadi saya menggunakan siku saya sebagai kendali. Ketika saya membukanya, saya benar-benar membuka tangan saya. Ketika saya menutupnya, saya benar-benar menutup tangan saya.”

Rewiring Saraf Manusia

Keajaiban ini dimulai dari teknologi baru yang dipimpin Dr. Todd Kuiken dan rekan-rekannya di Rehabilitation Institute of Chicago. Caranya? Para ahli bedah mengambil ujung saraf yang terputus—saraf yang dulunya mengendalikan lengan Sullivan—dan mengarahkannya ulang ke otot-otot di dadanya.

Saraf-saraf itu tumbuh ke dalam otot. Hasilnya, otak Sullivan kini bisa menggerakkan otot dada itu sama seperti menggerakkan lengan aslinya.

“Kami pada dasarnya merekabel ulang dia,” jelas Kuiken. “Kami menggunakan ototnya sebagai penguat sinyal saraf secara biologis.” Ketika Sullivan memikirkan “tutup tangan,” saraf yang tadinya menutup tangannya membuat otot dada kecil berkontraksi. Dua antena kecil di rompi pendukung menangkap kontraksi itu melalui aktivitas listrik, lalu menerjemahkannya menjadi perintah ke tangan buatan.

Proses ini menunjukkan sesuatu yang fundamental: otak manusia jauh lebih plastis dan adaptif daripada yang dulu dipikirkan. Sistem saraf bisa dilatih ulang, diubah tujuannya, dan dihubungkan dengan cara-cara baru.

Baru Permulaan

Teknologi Sullivan masih jauh dari sempurna. Pergerakan terbatas pada buka-tutup, tidak ada kontrol halus untuk setiap jari. Kuiken mengakui potensi jauh lebih besar menunggu penelitian lanjutan.

“Saraf yang dulu pergi ke tangan menutup semua jari secara individual, menutup ibu jari, melakukan banyak hal selain sekadar buka-tutup,” ujarnya. “Dengan teknik pemrosesan sinyal lanjutan, kita bisa mendapat kontrol lebih baik dari yang kita miliki sekarang.”

Halaman:12Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda