Jumat, 24 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Kisruh Proyek LRT City Anak BUMN: Pembangunan Mandek, Konsumen Menjerit

Proyek LRT City dengan pembangunan mandek, peralatan konstruksi berhenti, area sepi tanpa aktivitas pekerja
Proyek hunian vertikal LRT City mengalami stagnasi pembangunan akibat tekanan likuiditas dan restrukturisasi. (Sumber: ilustrasi/Wikimedia Commons). (Ilustrasi: AI)

JAKARTAProyek hunian vertikal LRT City milik PT Adhi Commuter Properti Tbk. (ADCP), anak usaha PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), tengah dihantui gelombang keluhan konsumen. Puluhan pembeli unit mengeluh pembangunan terhenti dan janji serah terima unit tidak terpenuhi.

Pokok Peristiwa

Keluh kesah membanjiri media sosial Threads sejak pekan lalu. Konsumen LRT City Ciracas, Cibubur, hingga Tebet sama-sama melaporkan stagnasi pembangunan dan keterlambatan penyelesaian yang melampaui janji asli.

Salah satu pembeli, yang membeli unit pada Juni 2023 dengan dijanjikan serah terima Desember 2023, menceritakan bagaimana proyek itu belum melihat pekerja konstruksi sejak usai Lebaran 2025.

“Tiap hari naik LRT dari situ kok makin kesini semakin tidak ada progress, sejak setelah Lebaran 2025 tidak pernah ada lagi pekerja konstruksinya,” ujar konsumen itu kepada Bisnis pada Selasa (21/7/2026). Frustasi memuncak hingga pembeli memutuskan menghentikan cicilan setelah 20 bulan membayar.

Keputusan itu bukan pilihan ringan. Pembeli mengatakan dia rela kehilangan uang cicilan 20 bulan daripada terus terjebak dalam skema pembayaran properti yang seolah tidak kunjung diselesaikan. “Biarin lah hilang duit 20 bulan, daripada lebih banyak lagi hilangnya,” tegasnya.

Konteks

Pola keluhan serupa terulang di ratusan unit. Mayoritas konsumen menunjuk janji serah terima antara 2023 hingga 2024 yang nyatanya tidak terwujud. Proyek yang seharusnya sudah selesai bertahun-tahun lalu kini masih bergantung pada janji penyelesaian bertahap — tanpa kepastian tanggal konkret.

Manajemen ADCP mengakui keterlambatan itu nyata. Direktur Operasi Farid Budiyanto menyebut dua hambatan utama: tekanan likuiditas dan proses restrukturisasi yang sedang berjalan. Perusahaan dalam posisi finansial yang ketat dan sedang merestruktur operasional.

“Perseroan juga menyampaikan permohonan maaf kepada para konsumen atas kondisi yang saat ini dihadapi, termasuk adanya keterlambatan penyelesaian dan serah terima pada beberapa proyek,” ujar Farid kepada Bisnis, Selasa (21/7/2026). Dia mengakui keterlambatan itu menimbulkan ketidaknyamanan dan menjadi perhatian bagi pembeli.

Dampak dan Langkah Berikutnya

Meski dalam tekanan finansial, ADCP tetap menjamin komitmen menyelesaikan semua proyek. Namun penyelesaiannya akan dilakukan secara bertahap, bukan serentak. Prioritas perusahaan saat ini adalah memperbaiki kondisi keuangan dan operasional sebagai fondasi keberlanjutan usaha jangka panjang.

“Penyelesaian seluruh proyek belum dapat dilakukan secara bersamaan. Oleh karena itu, perseroan terus memprioritaskan langkah efisien dan efektif dalam penyelesaian proyek,” jelasnya.

ADCP telah menyiapkan strategi akselerasi. Perusahaan sedang menjajaki kerja sama dengan mitra kontraktor melalui skema turnkey. Selain itu, perusahaan juga mencari investor yang memiliki kapasitas finansial untuk mendukung penyelesaian pembangunan. Langkah ini semacam pengakuan bahwa ADCP sendirian tidak mampu mendorong proyek-proyek itu maju dengan cepat dalam kondisi likuiditas saat ini.

Bagi konsumen, janji penyelesaian bertahap itu tetap abstrak tanpa jadwal eksekusi yang jelas. Kepercayaan telah tergoyahkan. Setiap bulan pembeli menunggu tanda-tanda kemajuan konstruksi, namun yang terlihat adalah lahan yang diam dan tidak bergerak.

(AG)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda