Kamis, 23 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Percaya diri jadi kunci tampil berkebaya

Percaya diri jadi kunci tampil berkebaya dengan padu padan
Hagai Pakan menekankan percaya diri saat memadukan kebaya dengan busana modern jelang Hari Kebaya Nasional. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — percaya diri jadi kunci saat berkebaya, kata penata busana film Jalan Pulang, Hagai Pakan, dalam rangkaian konferensi pers film pendek itu di Jakarta, Rabu. Ia menilai kebaya tak perlu diperlakukan sebagai busana yang kaku, karena anak muda justru bisa mulai memakainya lewat padu padan yang terasa dekat dengan gaya sehari-hari.

Pandangan itu sejalan dengan penjelasan yang juga dimuat ANTARA dan Kalbar Antaranews, bahwa generasi muda tidak perlu takut bereksperimen selama tetap nyaman. Hagai menekankan bahwa keberanian mencoba sering kali berawal dari rasa yakin pada pilihan busana sendiri.

Pede dulu, baru berani padu padan

Hagai menyebut kunci awal dalam mengenakan kebaya ada pada rasa percaya diri. Dari situ, orang baru bisa lebih leluasa mengatur warna, motif, model, sampai aksesori yang dipakai. Menurut dia, tidak ada aturan baku yang harus membuat kebaya terasa jauh dari pemakainya.

Ia bahkan mendorong padu padan yang berani, selama tetap senyaman mungkin. Kutipannya cukup tegas: “Kalau buat ‘mix and match’ adalah seberani mungkin dan sepede mungkin. Dan senyaman mungkin. Yang penting kita pede dulu. Kalau sudah pede kita pasti lebih berani,” kata Hagai.

Di bagian lain, Hagai juga menyampaikan bahwa warna, motif, dan pilihan model sebaiknya berangkat dari keyakinan diri, bukan rasa takut salah gaya. “Warna, motif, mau apa pun itu aku rasa harus berawal dari pede,” ujarnya.

Kebaya makin dekat dengan aktivitas harian

Yang menarik, Hagai melihat tren berkebaya sekarang tidak berhenti di acara seremonial. Kebaya, kata dia, sudah makin sering dipadukan dengan item fesyen modern sehingga bisa dipakai saat bekerja, berjalan santai, sampai kegiatan sehari-hari. Buat banyak orang, ini penting karena kebaya jadi terasa lebih lentur dan mudah diterima di rutinitas yang padat.

Soal kenyamanan, Hagai menaruh perhatian pada bahan pakaian. Ia mengingatkan agar pemakai menyesuaikan jenis kain dengan lokasi dan aktivitas. Jika kebaya berbahan tebal dipakai di luar ruangan, dalaman yang mampu menyerap keringat bisa membantu tubuh tetap nyaman.

“Yang paling penting adalah memilih jenis bahan sesuai dengan tempat kita mau acara. Memang kita yang perlu lebih pintar menyesuaikan,” katanya. Kalimat itu menegaskan bahwa kebaya bukan cuma soal tampilan, tapi juga soal rasa enak dipakai dari pagi sampai acara selesai.

Kenapa ini relevan buat generasi muda

Pesan Hagai terasa pas menjelang Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli. Film pendek Jalan Pulang sendiri diprakarsai Bakti Budaya Djarum Foundation untuk memperingati momen tersebut, sehingga pembicaraan soal kebaya bukan hanya soal busana, melainkan juga soal cara merawat identitas budaya lewat pilihan yang dekat dengan generasi sekarang.

Di titik ini, dampaknya cukup nyata. Saat kebaya dibuat lebih fleksibel, orang yang sebelumnya ragu bisa lebih mudah mencoba. Mereka tidak harus menunggu momen besar. Cukup dari acara kerja, pertemuan keluarga, atau kegiatan harian yang sederhana. Dari situ, kebaya punya ruang hidup yang lebih luas, bukan hanya tersimpan untuk acara formal.

Kalbar Antaranews juga menyoroti pesan serupa dalam laporannya, bahwa jelang Hari Kebaya Nasional, rasa percaya diri menjadi pintu masuk untuk berkebaya. Satu benang merahnya jelas: gaya bisa mengikuti zaman, tapi kenyamanan dan rasa yakin tetap jadi fondasi.

Dengan pendekatan seperti itu, kebaya tidak lagi berdiri sebagai busana yang jaraknya jauh dari kehidupan sehari-hari. Ia bisa hadir bersama celana, aksesori modern, atau bahan yang lebih ramah dipakai di lapangan. Dan di tengah dorongan untuk membuat kebaya semakin akrab, satu pesan Hagai terdengar paling menempel: mulai dulu dari pede.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda