Kamis, 23 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Piala AFF 2026: Rekor Juara Thailand dan Penantian Panjang Indonesia

Piala AFF 2026
Foto: Randy Prasatya/detikSport

Piala AFF 2026 kembali menyita perhatian pencinta sepak bola Asia Tenggara. Publik kini menanti apakah dominasi lama bakal runtuh atau justru semakin mengukuhkan hegemoni penguasa kawasan yang sudah berdiri sejak 1996.

Sejarah mencatat hanya ada lima negara yang pernah mengangkat trofi bergengsi ini. Thailand memimpin jauh di depan. Tim Gajah Perang mengoleksi tujuh gelar juara dari edisi 1996, 2000, 2002, 2014, 2016, 2020, hingga 2022. Mereka adalah penguasa mutlak lapangan hijau regional dengan mentalitas pemenang yang sulit ditembus lawan.

Mentalitas Singapura dan Kebangkitan Vietnam

Singapura punya catatan unik. Tim berjuluk The Lions ini tidak punya koleksi gelar sebanyak Thailand, tapi mentalitas mereka di final sangat mematikan. Empat kali mereka menembus partai puncak, empat kali pula trofi dibawa pulang ke Negeri Singa.

Tidak ada kata kalah bagi Singapura setiap kali mencapai final. Rekor sempurna ini menjadi momok bagi siapa pun lawan yang mereka hadapi di laga terakhir.

Bergeser ke Vietnam, persaingan makin panas. Golden Star Warriors kini berdiri di peringkat ketiga dengan raihan tiga gelar. Status mereka saat ini jauh dari sekadar pelengkap. Mereka datang ke gelaran 2026 sebagai juara bertahan.

Gelar ini mereka dapatkan setelah mempecundangi Thailand di final edisi 2024 lalu. Kemenangan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa peta kekuatan sepak bola ASEAN telah berubah secara drastis.

Beban Sejarah Skuad Garuda

Di balik gemerlap keberhasilan negara tetangga, Indonesia masih memikul beban berat. Skuad Garuda terjebak dalam penantian panjang yang melelahkan. Enam kali menjejakkan kaki di partai final, enam kali pula harus menelan pil pahit kekalahan. Kegagalan di tahun 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020 menjadi catatan kelam yang menghantui setiap pemain yang memakai seragam merah putih.

Rekor sebagai runner-up sebanyak enam kali adalah statistik yang tidak ingin diingat oleh pendukung setia. Indonesia menjadi satu-satunya tim yang paling sering melangkah jauh ke final namun selalu gagal menyentuh trofi. Ini bukan lagi soal keberuntungan yang tipis. Ada tembok besar yang belum bisa dihancurkan oleh para penggawa Garuda saat berada di puncak turnamen.

Bagi suporter di Tanah Air, setiap laga adalah pertaruhan harga diri. Harapan tidak pernah luntur meski ribuan kekecewaan telah dirasakan sebelumnya. Beban sejarah ini tentu terasa berat di pundak para pemain. Mereka tidak hanya bertarung melawan taktik lawan di lapangan, tapi juga melawan bayang-bayang kegagalan masa lalu yang terus membayangi setiap langkah.

Persaingan Piala AFF 2026 dipastikan tidak akan melunak. Thailand tentu ingin merebut kembali takhta yang sempat hilang dari genggaman mereka. Vietnam pun punya ambisi untuk membuktikan bahwa kesuksesan tahun 2024 bukanlah kebetulan semata.

Bagi Indonesia, turnamen ini adalah kesempatan untuk mengubah narasi. Memutus rantai kegagalan bukan sekadar ambisi pribadi pelatih atau pemain, melainkan tuntutan sejarah yang sudah terlalu lama menggantung di kepala jutaan suporter.

Setiap bola yang bergulir di lapangan nanti bakal menentukan apakah Indonesia mampu melampaui kutukan enam final atau justru harus kembali menelan ludah.

Fokus tim saat ini tertuju pada perbaikan performa di fase awal, memastikan setiap detail taktis berjalan mulus sebelum benar-benar diuji oleh ketatnya babak gugur. Perjalanan baru saja dimulai, dan tekanan di pundak skuad Garuda jauh lebih besar dari edisi-edisi sebelumnya.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda