“Ketiga pilar ini hanya terwujud jika didukung komitmen dan kemauan politik kuat dari pemerintah agar industri halal menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Handi.
Langkah Taktis Keluar dari Zona Konsumen
Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia sekaligus Ketua Umum Forum Bisnis Negara Islam Asia Pasifik, M. Arsjad Rasjid P.M., mengungkapkan kekhawatirannya terhadap posisi Indonesia yang masih didominasi sebagai konsumen. Nilai ekonomi halal dunia saat ini setara dengan sekitar 12 kali lipat APBN Indonesia tahun 2024.
“Indonesia tidak boleh terus berada di posisi sekadar konsumen. Kita punya sumber daya, penduduk, dan pasar besar. Yang dibutuhkan sekarang adalah ekosistem yang menjadikan kita pemimpin ekonomi halal global,” ujar Arsjad.
Arsjad merinci posisi Indonesia yang sebenarnya unggul di beberapa sektor spesifik, seperti peringkat pertama pada modest fashion, peringkat ketiga pada kategori media dan rekreasi, serta kenaikan sektor farmasi dan kosmetik dari posisi kelima ke peringkat keempat. Namun, ia menyayangkan keunggulan sektoral ini belum ditopang oleh infrastruktur hulu-hilir yang kokoh.
Guna mempercepat lompatan besar bagi masa depan ekonomi halal Indonesia Universitas Paramadina CSED INDEF merumuskan empat langkah taktis yang diusulkan oleh Arsjad:
Pertama, melakukan percepatan pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Halal sebagai pusat produksi dan investasi terintegrasi. Kedua, meluncurkan paspor halal yang memanfaatkan teknologi blockchain guna menjamin ketertelusuran produk dari bahan baku hingga ke tangan konsumen. Ketiga, mengoptimalkan pemanfaatan 92 perjanjian pengakuan bersama atau Mutual Recognition Agreement (MRA) dengan 24 negara mitra. Keempat, menangkap peluang ekspor secara agresif melalui inisiatif Global Halal Mart di Arab Saudi.
Ketua CSED INDEF, Prof. Nur Hidayah, menambahkan bahwa sinergi dari hulu ke hilir mutlak diperlukan untuk menggeser dominasi impor di pasar lokal.
“Kita tidak cukup hanya menjadi pasar, tetapi harus mampu menciptakan produk, teknologi, dan inovasi yang berdaya saing global. Instrumen ZISWAF juga berpotensi besar mendorong pertumbuhan sektor riil dan kesejahteraan masyarakat,” tutur Nur.
FAQ
1. Kegiatan apa ini dan siapa penyelenggaranya?
Diskusi publik bertajuk Masa Depan Ekonomi Halal RI, diselenggarakan Universitas Paramadina bersama CSED INDEF.
2. Bagaimana posisi Indonesia dalam GIEI 2025/2026?
Beralih ke peringkat keempat, turun satu tingkat dibanding tahun sebelumnya, meski unggul di sektor tertentu seperti modest fashion.
3. Apa tiga pilar utama penguatan ekonomi halal?
Capital (Modal), Governance (Tata Kelola), dan Inclusivity (Inklusivitas).
4. Usulan strategis apa yang disampaikan?
Pembentukan KEK Halal, paspor halal berbasis blockchain, optimalisasi MRA, serta kolaborasi lintas sektor dan ZISWAF.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.