TAIPEI — Lonjakan permintaan teknologi kecerdasan buatan (AI) diprediksi bakal terus memicu kelangkaan pasokan chip memori secara global hingga satu dekade ke depan. Chairman produsen chip memori ADATA, Chen Li-bai, dengan tegas menepis spekulasi pasar mengenai potensi pecahnya gelembung investasi AI dalam waktu dekat.
Chen menyatakan bahwa pembicaraan mengenai potensi kejatuhan pasar AI tidak relevan setidaknya hingga setelah tahun 2030. Menurutnya, permintaan global akan kekuatan komputasi, memori, dan listrik masih jauh melampaui proyeksi sebagian besar analis pasar.
Pandangan ini muncul di tengah keraguan publik setelah Meta sempat menyewakan kelebihan kapasitas komputasinya, yang memicu anggapan bahwa penyedia layanan cloud telah membangun infrastruktur secara berlebihan.
Kelangkaan Memori Jadi Tren Struktural
Chen menilai pendekatan analis yang hanya membedah belanja modal jangka pendek atau tingkat utilisasi satu perusahaan sebagai cara pandang yang sempit. Ia mengibaratkan perspektif tersebut seperti melihat langit melalui lubang pipa.
Meski produsen raksasa seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron tengah memperluas kapasitas produksi, Chen memprediksi kelangkaan tetap akan menghantui sektor memori dunia.
Pasokan listrik—terutama listrik hijau—dan memori akan menjadi dua sumber daya paling langka dalam sepuluh tahun mendatang. Para manufaktur kini diprediksi bakal memilih jalur ekspansi yang lebih rasional dan berhati-hati untuk menghindari siklus peningkatan kapasitas yang tidak teratur seperti di masa lalu.
Data harga di lapangan mendukung argumen mengenai kelangkaan struktural ini. Berdasarkan laporan 3D Center, harga perangkat memori DDR5 di Jerman melonjak 7 persen pada Juli 2026. Angka tersebut menempatkan harga rata-rata DDR5 berada 448 persen lebih tinggi dibandingkan periode Juli 2025. Peningkatan drastis ini mencerminkan lonjakan tajam yang terjadi dalam kurun waktu satu tahun terakhir.
Dampak ke Berbagai Sektor
Kebutuhan memori masa depan tidak lagi terbatas pada pusat data terpusat. Chen memproyeksikan integrasi AI akan meluas ke robotika, kendaraan otonom, pabrik tanpa awak, toko otomatis, rumah pintar, hingga satelit orbit rendah. Infrastruktur pendukung untuk teknologi tersebut memerlukan kapasitas memori tambahan yang masif.
Gabungan permintaan dari berbagai sektor ini, menurut Chen, tidak akan mampu dipenuhi oleh tiga produsen memori dominan dunia, bahkan dengan tambahan produksi dari manufaktur besar asal Tiongkok, dalam kurun waktu satu dekade.
Bagi konsumen maupun produsen perangkat komputer yang kini tengah berjuang menghadapi mahalnya harga komponen, proyeksi ini menjadi sinyal bahwa tekanan biaya kemungkinan besar akan terus berlanjut tanpa adanya tanda-tanda penurunan harga dalam waktu dekat.
Strategi ke depan bagi para pelaku industri kini berfokus pada bagaimana mengelola keterbatasan sumber daya ini agar tidak menghambat inovasi yang meluas ke berbagai model bisnis, baik dalam kategori B2B, B2G, B2C, maupun B2B2C.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.