Jumat, 24 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Bos ADATA: Krisis Chip Memori Berlanjut hingga 2030, Tak Ada Gelembung AI

Bos ADATA
Foto: TechRadar

TAIPEI — Harapan akan penurunan harga perangkat keras komputer dalam waktu dekat tampaknya harus dikubur dalam-dalam. Chen Li-bai, pimpinan produsen chip memori raksasa ADATA, menyatakan bahwa kelangkaan chip memori global diprediksi bakal terus menghantui pasar hingga satu dekade mendatang.

Ia menegaskan, narasi mengenai kehancuran investasi di sektor kecerdasan buatan atau AI hanyalah spekulasi prematur.

Kondisi ini dipicu oleh permintaan global terhadap daya komputasi AI, chip memori, dan pasokan listrik yang terus melampaui proyeksi para analis pasar. Chen menepis kekhawatiran bahwa ledakan AI saat ini merupakan gelembung yang akan segera pecah. Menurutnya, pembicaraan mengenai potensi gelembung tersebut baru layak dilakukan setelah tahun 2030.

Kebutuhan akan memori kini tidak lagi terbatas pada pusat data terpusat. Berbagai aplikasi masa depan, mulai dari robotika, kendaraan otonom, pabrik tanpa awak, hingga rumah pintar dan infrastruktur satelit orbit rendah, dipastikan menuntut kapasitas memori dalam skala masif.

Chen menilai, dominasi tiga produsen memori utama dunia, bahkan dengan tambahan dari produsen asal China, tetap tidak akan mampu memenuhi lonjakan permintaan tersebut dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan.

Sinyal Harga dari Pasar DDR5

Dampak nyata dari ketidakseimbangan pasokan ini sudah terlihat pada harga komponen di pasaran. Data dari 3D Center menunjukkan bahwa harga perangkat memori DDR5 di Jerman mengalami kenaikan sebesar 7 persen hanya dalam bulan Juli 2026. Angka ini membawa harga rata-rata DDR5 ke level 448 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan catatan harga pada Juli 2025.

Lonjakan drastis ini mempertegas argumen Chen bahwa kelangkaan memori bersifat struktural, bukan sekadar riak pasar sementara.

Produsen chip saat ini cenderung memilih ekspansi kapasitas secara rasional dan prudent, menghindari pola ekspansi besar-besaran yang tidak teratur seperti pada siklus industri masa lalu.

Strategi ini diambil untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian pasokan sumber daya energi hijau dan material chip.

Bagi konsumen maupun produsen perangkat komputer di Indonesia, prediksi ini memberikan gambaran bahwa biaya komponen kemungkinan besar akan tetap tinggi dalam jangka panjang.

Chen mengkritik para analis yang cenderung menilai ledakan AI hanya dari belanja modal jangka pendek atau data utilisasi satu perusahaan saja.

Pendekatan sempit tersebut dinilai gagal menangkap gambaran utuh tentang betapa masifnya kebutuhan AI bagi ekosistem bisnis global yang mencakup sektor B2B, B2G, B2C, hingga B2B2C secara bersamaan.

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda