JAKARTA — Dominasi emiten milik Grup Bakrie dan Grup Prajogo Pangestu menjadi jangkar penting bagi pergerakan indeks LQ45 sepanjang pekan perdagangan 20–24 Juli 2026. Meskipun indeks LQ45 tercatat melemah 1,15 persen ke level 614,786 dari posisi 621,934 pada pekan sebelumnya, sejumlah saham dari dua grup besar ini sukses menahan kejatuhan indeks lebih dalam.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatatkan performa gemilang dengan penguatan sebesar 14 persen.
Saham ini menjadi penyumbang terbesar terhadap LQ45 dengan kontribusi 1,34 poin, didukung kapitalisasi pasar berdasarkan free float (MCFF) sebesar Rp26,31 triliun. Tidak mau kalah, PT Darma Henwa Tbk.
(DEWA) yang juga berada di bawah payung Grup Bakrie melonjak 21,43 persen dan memberikan tambahan kontribusi sebesar 0,82 poin dengan MCFF Rp11,18 triliun.
Grup Prajogo Pangestu turut ambil bagian dalam menjaga stabilitas indeks. PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang menguat 2,95 persen berkontribusi 0,52 poin, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) yang melesat 11,11 persen memberikan kontribusi 0,49 poin bagi LQ45.
Dinamika Pasar di Tengah Koreksi Indeks
Pelemahan yang dialami LQ45 tampak kontras dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru ditutup menguat 0,34 persen ke level 6.196,430. Ketimpangan ini menunjukkan selektivitas investor yang masih cukup tinggi terhadap saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam LQ45.
Di luar nama-nama besar tersebut, beberapa emiten lain juga mencatatkan kontribusi positif terhadap indeks. PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) menyumbang 0,57 poin setelah harga sahamnya naik 2,54 persen. Saham sektor konsumer seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.
(AMRT) mencatatkan kenaikan 3 persen dengan kontribusi 0,26 poin, setara dengan sumbangsih dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN).
Bagi pelaku pasar, penguatan saham-saham tertentu di tengah tekanan indeks menjadi sinyal penting untuk memetakan kembali portofolio mereka. Meskipun indeks LQ45 mengalami koreksi, aktivitas transaksi di BEI selama periode 20–24 Juli 2026 justru menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Hal ini mencerminkan tingginya likuiditas pasar meski aksi jual bersih investor asing masih berlanjut.
Lonjakan Transaksi di Bursa
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad mengungkapkan data aktivitas perdagangan yang meningkat cukup tajam. Rata-rata volume transaksi harian melompat 66,88 persen menjadi 43,68 miliar saham. Nilai transaksi pun tumbuh 41,21 persen menjadi Rp19,76 triliun, sementara frekuensi transaksi harian naik 14,4 persen menjadi 2,67 juta kali transaksi.
Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar BEI berhasil tumbuh 1,13 persen menjadi Rp10.870 triliun.
Namun, investor asing masih cenderung melakukan aksi jual dengan nilai bersih Rp1,36 triliun pada perdagangan Jumat (24/7/2026), yang membuat akumulasi jual bersih asing sepanjang tahun 2026 mencapai angka Rp79,09 triliun.
Tantangan ke depan bagi LQ45 akan bergantung pada keberlanjutan arus modal asing serta sejauh mana saham-saham penopang utama mampu mempertahankan momentum kenaikannya dalam jangka pendek.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.